EDC Malaysia Tampil di Depan 1017 Ibu Peserta Supertass

Supertass (Seribu Perempuan Menghias Tas Belanja Bersama) yang diadakan di Royal Plasa Surabaya, Sabtu (20/12) semakin meriah tatkala 15 remaja Malaysia yang tergabung dalam Eco Drum Circle (EDC) YAWA Malaysia menghibur peserta dengan permainan musik dari barang-barang bekas, seperti ember, botol, dan galon. Bahkan, hampir seluruh pengunjung Royal Plaza Surabaya yang menyaksikan panggung utama acara nampak ikut bergoyang-goyang mengikuti irama musik yang dihasilkan. Beberapa peserta Supertass juga naik ke atas panggung untuk berjoget bersama.

Supertass adalah salah satu cara perempuan-perempuan Surabaya dalam merayakan Hari Ibu yang diperingati di Indonesia setiap 22 Desember. Tunas Hijau menjadi salah satu pendukung kegiatan ini. Lebih dari 1.000 perempuan mengampanyekan penyelamatan bumi dengan cara menghias tas bersama-sama. Supertass diprakarsai oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya Dyah Katarina.

Tema utama kegiatan di Royal Plasa ini adalah Ayo Selamatkan Bumi!. Museum Rekor Indonesia (Muri) mencatat kegiatan itu sebagai salah satu rekor baru. Paulus Pangka, manajer Muri, memberikan penghargaan kepada Tim Penggerak PKK Kota Surabaya dan Dannis Collection (gerai busana muslim) sebagai pemrakarsa dan penyelenggara acara menghias tas belanja dari kain dengan peserta terbanyak, yakni 1.017 orang.

Bagi Dyah Katarina, kegiatan mengumpulkan ibu-ibu dalam jumlah besar untuk melakukan kegiatan bersama bukanlah kegiatan pertama. Sebelumnya, istri wali kota Surabaya itu pernah menggagas acara Superkiss (Seribu Perempuan Melukis Bersama) dan Superliss(Seribu Perempuan Menulis Bersama). “Sekarang aktivitasnya berbeda lagi, yaitu menghias tas belanja dari kain blaco,” ungkap Dyah Katarina. “Tahun depan, saya ingin membuat Supernets, yaitu seribu perempuan bermain internet bersama,” kata Dyah Katarina.

Melalui acara menghias tas bersama, Dyah Katarina ingin mengajak ibu-ibu untuk menyampaikan misi menyelamatkan bumi. Dengan memiliki dan memakai terus tas belanja dari kain, ibu-ibu bisa mengurangi penggunaan tas plastik, terutama yang sekali pakai. Artinya, mengurangi sampah di Surabaya. “Mulai sekarang, apakah ibu-ibu siap memakai tasnya untuk belanja. Kalau nanti dapat tas plastik, sebaiknya ditolak. Pakai tas kainnya sendiri saja,” pesan Dyah Katarina saat berdiri di panggung.

Setiap peserta yang mengikuti kegiatan mendapatkan satu tas dari kain blaco dan bahan berupa kain perca dari Dannis Collection. Selanjutnya, mereka diminta menghias tas tersebut sesuai dengan tema yang ditetapkan.Peraturan utamanya, hiasan itu harus dijahit dengan tangan, tidak boleh dilem. “Agar kuat dan tidak lepas kalau dicuci. Dengan begitu, tasnya bisa bertahan lama,” tutur Aryani Widagdo, direktur Arva School of Fashion, salah seorang juri.

Para peserta sebelumnya mendapatkan pengarahan mengenai cara menghias tas. Bahkan, mereka dianjurkan mulai menghias tasnya sejak di rumah. “Di sini tinggal menyelesaikan saja,” tambah Dyah Katarina. Begitu acara dibuka oleh wali kota, ibu-ibu yang mengenakan kaus seragam merah, kuning, dan hijau itu langsung menghias tas masing-masing.

Peserta diberi waktu satu jam untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Setelah itu, para juri akan memilih 50 terbaik. Selain Aryani, juri lain adalah Tjahyani Retno Wilis, ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Surabaya dan Tetty Rachmiwulan dari Dinas Pendidikan Kota Surabaya.

Menjelang Supertass dimulai, Dyah melakukanvideo conference dengan Joanne Tawfilis, founder/direktur Art Miles Mural Project di California, Amerika Serikat. Dalam percakapan yang difasilitasi Tunas Hijau itu, Dyah bercerita mengenai kegiatannya di Surabaya. Mengetahui aksi tersebut, Joanne mengatakan bahwa berita itu akan dimasukkan dalam Endangered Planet Magazine. Bahkan, dia memuji senyum Dyah.”The mayor’s wife is wonderful and her smile tell us how proud she is of the women in the city of Surabaya. Congrats to all of you,” ucapnya. (roni)