Empat Jam Bermain Ular Tangga Lingkungan Hidup Ukuran Raksasa Kiat SDN Claket I Memaknai Hari Kasih Sayang Dengan Peduli Lingkungan Hidup.

Pro kontra perayaan Hari Kasih Sayang (Valentine Day) di masyarakat, tidak menyurutkan sebagian masyarakat untuk memperingatinya. Ini terlihat pada kegiatan unik yang diselenggarakan di SDN Claket I Kecamatan Pacet, Mojokerto. Untuk memberikan pemahaman tentang Hari Kasih Sayang, Kamis (12/2), SDN Claket I bersama dengan Tunas Hijau dan Saka Wanabakti Pacet menggelar permainan ular tangga lingkungan hidup ukuran 6 x 6 meter. Enam ular tangga ukuran raksasa itu berisi pesan-pesan pelestarian lingkungan hidup pada setiap kotaknya.

“Beberapa kotak yang terhubung oleh ular atau tangga, menunjukkan keterkaitan informasi sebab akibat seperti permainan ular tangga pada umumnya,” kata aktivis Tunas Hijau Sugianto. Dijelaskan lebih lanjut oleh Sugianto bahwa lewat permainan ini anak-anak diajak untuk memahami kondisi lingkungan dan  mengetahui tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk melestarikan lingkungan hidup.

Ditemui di ruangan kerja,  Kepala SDN Claket I Fanun Nusfi menjelaskan bahwa pengertian kasih sayang itu tidak hanya bersifat kelompok atau perorangan. Namun, jika dimaknai secara universal, maka banyak manfaat positif yang didapatkan. Misalnya kasih sayang terhadap lingkungan hidup. “Tidak mungkin mencegah anak-anak untuk tidak mengetahui segala hal tentang Hari Kasih Sayang. Apalagi di jaman dengan kecanggihan teknologi seperti saat ini. Jika sejak usia dini anak-anak diarahkan untuk menyikapi dengan bijaksana, saya yakin dewasa kelak mereka akan bersikap bijak. Khususnya berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan,” ungkap Fanun Nusfi.

Sementara itu, pada pelaksanaan kegiatan, anak-anak terlihat antusias mengikuti permainan ini. Setiap kelas yang rata-rata terdiri dari 25 – 35 anak  mendapatkan satu lembar permainan ular tangga ukuran raksasa. Untuk memainkan permainan ular tangga sebesar itu, tidak dibutuhkan pion tambahan. Cukup pemainnya merangkap menjadi pion sekaligus pelempar dadu yang juga berukuran raksasa. Uniknya setiap pemain harus membaca dengan keras pesan-pesan pelestarian lingkungan di setiap kotak yang dimasukinya.

Alhasil, halaman sekolah yang luasnya kurang lebih setengah lapangan bola itu terlihat ramai oleh riuh suara anak-anak kelas satu hingga kelas enam.  Permainan ular tangga raksasa ini menjadi semakin menarik ketika beberapa aktivis Tunas Hijau memberikan hadiah bagi mereka yang berhasil mencapai angka seratus. Reward yang diberikan adalah permainan ular tangga lingkungan hidup ukuran 30 cm x 30 cm. Nur Aini Maratus misalnya, siswa kelas V mengharapkan bahwa permainan ini bisa digelar setiap minggunya, karena banyak pengetahuan baru yang didapat. “Saya baru tahu kalau sterofoam (busa) itu sangat berbahaya dan tidak bisa didaur ulang,” kata Aini di sela-sela kegiatan.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ayati, wali kelas 6. Ayati  mengungkapkan bahwa dengan permainan ular tangga lingkungan hidup seperti ini secara tidak langsung anak-anak sudah belajar dengan cara-cara yang menyenangkan. Lebih bagus lagi pengetahuan yang didapat diterapkan dalam tindakan sehari-hari, misalnya membuang sampah pada tempatnya. Di akhir permainan, seluruh siswa-siswi melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar sekolah dari sampah plastik yang berceceran. Begitu antusiasnya, tidak terasa waktu empat jam molor hingga bel istirahat berbunyi. (sugianto/geng)