Melarang Pedagang Makanan Minuman Berjualan Di Depan Sekolah, Kepala SDN Dawuan I Situbondo Sempat Diancam Bunuh

Upaya pemilahan sampah organik dan non organik sudah dilakukan di SDN Dawuan I Kabupaten Situbondo. Tempat sampah terpisah juga sudah banyak ditempatkan di beberapa sudut sekolah. Bahkan perilaku siswa membuang sampah sesuai dengan jenisnya juga sudah lumayan bagus. Namun, upaya pemilahan sampah itu hanya simbolis saja. Ini dikarenakan sekolah selalu mencampur lagi sampah yang sudah terpilah tersebut. Semuanya ditumpuk lagi dan ditempatkan di lahan kosong di pojok kiri depan sekolah. Pemandangan ini didapat tim evaluasi Adiwiyata Jawa Timur saat mengunjungi sekolah ini, Sabtu (28/2).

Padahal, jenis sampah yang dihasilkan di sekolah adalah jenis sampah yang bisa diolah lebih lanjut, seperti daun kering, sisa makanan dan sedikit plastik. Sedangkan jenis sampah kertas dan kardus yang banyak terdapat di tempat sampah yang tersebar di sekolah ini malah bisa langsung dijual pada pengepul atau disumbangkan pada pemulung sampah. Apalagi, upaya pembatasan jenis sampah yang dihasilkan di sekolah sudah dilakukan cukup lama. Yaitu dengan melarang penjual makanan dan minuman berjualan di depan sekolah.

Sementara itu upaya sekolah melarang penjual makanan dan minuman di depan sekolah patut mendapat acungan jempol. Pelarangan ini dilakukan sekolah untuk membantu siswa mendapatkan makanan dan minuman dengan kadar gizi yang cukup dan membatasi sampah plastik yang dihasilkan. Upaya pelarangan ini sempat mendapat perlawanan keras dari para pedagang. Bahkan sekolah beberapa kali mendapat surat ”kaleng” berisi ancaman bunuh karena upaya pelarangan yang dilakukan. Menanggapi surat ancaman tersebut, sekolah sampai mencari perlindungan dari Kepala Polresta Situbondo.

Kesempatan melakukan evaluasi Adiwiyata Jawa Timur di SDN Dawuan I Situbondo juga dimanfaatkan tim Adiwiyata Jawa Timur untuk berbagi kiat praktis membentuk sekolah Adiwiyata. Berbagi kiat praktis ini disampaikan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Jawa Timur dan Tunas Hijau. Hampir seluruh guru pengajar sekolah mengikuti pembekalan singkat program Adiwiyata ini.

Dikatakan Putu Arta Giri, kepala bidang komunikasi lingkungan dan peran serta masyarakat pada BLH Jatim, bahwa program Adiwiyata bukan semata-semata lomba untuk memilih sekolah yang berwawasan lingkungan hidup setiap tahunnya. Lebih dari itu, menurut Putu, Adiwiyata dengan empat aspek yang meliputi kebijakan sekolah, kurikulum lingkungan hidup, kegiatan partisipatif aktif, dan pengembangan sarana pendukung berwawasan lingkungan adalah suatu hal yang memang harus dilakukan oleh setiap sekolah.

Sedangkan Tunas Hijau, melalui aktivis seniornya Mochamad Zamroni, menekankan bahwa kuesioner yang harus dikirimkan sekolah bukan untuk diisi apa adanya. Kuesioner Adiwiyata, menurut Zamroni, seyogyanya dijadikan panduan untuk menyusun program kerja sekolah tentang lingkungan hidup. Caranya, dengan menetapkan target nilai yang paling besar dengan indikator yang dijelaskan pada kuesioner. Target yang sudah ditetapkan tentunya harus dibarengi dengan penentuan tanggal pelaksanaan. (roni)