Permainan Tradisional dan Pengenalan Reptilia di Sesi Sore Karantina

Masih ingat dengan permainan bekel? Atau permainan loncat karet atau loncat tali? Bagaimana dengan dakon dan engkle? Hari pertama sesi karantina, Kamis (21/5) sore, para finalis pangeran dan puteri lingkungan hidup 2009 diajak melakukan beberapa permainan tradisional. Ada bekel yang menggunakan bola elastis. Ada dakon yang memindahkan biji-bijian dari lubang-lubang yang disediakan. Ada loncat tali yang menggunakan karet gelang yang disambung-sambung. Ada juga permainan ular tangga peduli lingkungan hidup.

Pada sesi sore karantina ini, para finalis memang sengaja diajak untuk mengenal lebih dekat permainan yang sudah ada sejak kakek nenek kita masih anak-anak. Sesi ini dilakukan mengingat permainan tradisional lebih ramah lingkungan hidup dari pada jenis permainan modern yang bermunculan belakangan ini. Sebut saja play station atau Nintendo. Untuk memainkan permainan modern ini diperlukan listrik. Sedangkan pemakaian listrik berdampak terhadap lingkungan hidup khususnya pada semakin banyaknya gas rumah kaca yang dihasilkan di atmosfer bumi.

Sementara itu, sebelum sesi permainan tradisional komunitas Reptilia Surabaya memberikan pengenalan tentang reptilian khususnya jenis ular. Sesi pengenalan reptilia ini tidak hanya disampaikan secara teori dengan menggunakan slide powerpoint. Pada sesi ini, para finalis diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan beberapa spesies reptilia. Ada iguana, kukang dan ular. Ada beberapa jenis ular seperti piton, piton karpet, tali picis, bawah tanah dan piton oval. Ukuran tubuh ular-ular ini bahkan ada yang sampai berukuran paha orang dewasa.

Disampaikan Bagus Widodo, ketua komunitas Reptilia Surabaya, pada umumnya di masyarakat kita sudah menjadi stigma yang menyebutkan bahwa reptilia adalah binatang yang menjijikkan. “Istilah reptilia sering membuat ngeri orang dengan disertai seringai atau mimik wajah yang takut, sehingga mereka pantas untuk dihindari. Apalagi kalau kita bercerita tentang Ular, pasti mayoritas orang akan berteriak takut atau ngeri. Tidak sedikit yang akan langsung mengatakan  dibunuh saja,” kata Bagus Widodo. (roni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.