Beban Berat Sungai Brantas, Pedulikah Kita?

Secara umum rusak dan tercemarnya lingkungan hidup dikarenakan dua hal, yaitu rendahnya pengetahuan dan rendahnya kesadaran tentang pentingnya lingkungan hidup. Banyak orang mengetahui teknologi pengelolaan lingkungan tetapi tidak banyak yang mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan hanyalah sebagai obyek pengetahuan tapi tidak diiringi perilaku dalam menjalankannya.

Fenomena tersebut juga terjadi pada Sungai Brantas, sungai yang bersumber pertama kali dari Arboretum di Dusun Sumber Brantas, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, tepatnya 1500 meter diatas permukaan laut. Dari Arboretrum ini air mengalir melewati kota Malang, Blitar, Kediri, Jombang, Mojokerto, Surabaya dan bermuara di selat Madura.

Sungai yang menjadi nadi kehidupan sebagai sumber untuk memenuhi kebutuhan air bersih ini mengalami penurunan drastis secara kualitas maupun kuantitas dari hulu ke hilir. Secara kuantitas, dari hulu sungai terjadi penurunan jumlah sumber air. Dari 111 sumber air hanya tersisa kurang dari separohnya saat ini. Hilangnya sumber air ini disebabkan semakin berkurangnya hutan dataran tinggi yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang berpengaruh pada debit sungai Brantas. Kondisi ini diperparah dengan tingginya perbedaan curah hujan antara musim kemarau dan musim penghujan.

Puncaknya, pada musim kemarau akan berpotensi berkurangnya pasokan air untuk irigasi pertanian, pengolahan air minum dan industri di daerah hilir. Sementara pada musim penghujan akan perpotensi terjadi bencana, seperti banjir dan tanah longsor. Pembukaan hutan dataran tinggi untuk lahan pertanian sebagai konsekuensi peningkatan kebutuhan pangan dari tahun ke tahun dan penggunaan sistem pertanian yang tidak sesuai juga membawa dampak percepatan erosi tanah di dataran tinggi. Erosi ini akan mengakibatkan percepatan sedimentasi pada badan sungai Brantas terutama beberapa bendungan yang berada di aliran sungai Brantas.

Bendungan Sutami misalnya. Bendungan skala besar ini berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA), irigasi ribuan hektar lahan pertanian, pemasok bahan baku pengolahan air minum dan industri di daerah hilir. Bendungan ini menggantungkan pasokan air pada sungai Brantas. Penelitian yang dilakukan Perum Jasa Tirta I menunjukkan bahwa saat ini bendungan Sutami mengalami sedimentasi sebesar 6.000.000 meter kubik per tahun. Sementara kemampuan maksimal Perum Jasa Tirta I untuk pengurangan sedimentasi adalah 1.000.000 meter kubik per tahun.

Kondisi ini berakibat pada penurunan kemampuan bendungan untuk menampung air sebagai pasokan produksi tenaga listrik, irigasi pertanian, dan industri hilir. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan membawa dampak pada krisis energi dan pangan, khususnya pada daerah aliran sungai (DAS) Brantas.

Selain kuantitas, kualitas sungai Brantas Juga mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tingginya pollutan terlarut dari hulu ke hilir yang masuk ke badan sungai Brantas menjadi penyebab utamanya. Pollutan ini berasal dari penggunaan pestisida, pupuk kimia untuk pertanian, limbah industri yang tidak terolah, limbah rumah tangga baik limbah padat maupun cair, limbah peternakan dan lainnya yang masuk begitu saja. Kejadian ini tidak hanya di sepanjang aliran sungai Brantas, namun juga melalui semua anak sungai yang ber hilir pada sungai Brantas.

Di sisi lain, tipikal kota-kota besar di Indonesia khususnya pulau Jawa selalu mendekati sumber air terdekat, yang umumnya adalah sungai. Bisa dimaklumi, ini akan mempermudah untuk mendapatkan air sebagai pemenuhan kebutuhan hidup. Kota Surabaya misalnya, kebutuhan air bersih kota ini bergantung pada beberapa anak sungai Brantas. Melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), air tersebut dimurnikan melalui beberapa proses serta disalurkan  ke masyarakat melalui sistem pemipaan.

Tingginya pollutan sungai, menjadi beban berat PDAM Kota Surabaya untuk menghasilkan air dengan kualitas layak minum. Kondisi saat ini, air minum yang dihasilkan adalah air yang “kurang” layak minum. Masyarakat pun perlu merebus hingga mendidih (100 derajat Celcius) untuk “layak” minum. Hal ini berbeda dengan tiga puluh tahun sebelumnya, dimana air hasil olahan PDAM Surabaya dapat diminum langsung dari krannya. Penurunan kualitas air sungai Brantas jangka panjang berdampak pada terjadinya krisis air bersih dan krisis kesehatan.

Pada akhirnya, seluruh dampak penurunan kuantitas dan kualitas sungai Brantas akan berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer bumi yang menyebabkan terjadinya pemanasan global atau global warming. Pemanasan global atau global warming sendiri akan berpengaruh pada perubahan iklim dunia atau climate change yang berdampak terjadinya krisis lingkungan ditingkat global. (geng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.