SMP Negeri 5 Surabaya, SMP Negeri 31 Surabaya dan SMP Negeri 15 Surabaya Juarai Lomba Komik Pendek Anti Udara Kotor

Lomba Komik Pendek tema Anti Udara Kotor ikut memarakkan Kampanye Anti Udara Kotor yang digagas Tunas Hijau, Sabtu (6/6) di Taman Bungkul Surabaya. Lomba komik pendek yang diperuntukkan bagi siswa sekolah menengah pertama (SMP) ini digelar seusai longmarch  jalan sehat dipadu kampanye damai tentan Anti Polusi Udara. Pada lomba komik pendek ini, para peserta diminta membuat kartun pada kertas gambar A3 berwarna putih. Kartun tersebut harus berisi percakapan tentang pentingnya udara bersih bagi kehidupan umat manusia.

Meski kondisi Taman Bungkul Surabaya, tempat penyelenggaraan lomba komik, semakin terik, para peserta lomba komik tidak putus asa. Sebagian besar mereka memilih menyelesaikan komik pendek di bawah pepohonan besar yang banyak tersebut di Taman Bungkul. Selang dua jam berlangsung, satu persatu peserta lomba nampak mulai mengumpulkan karya komik pendek mereka. Pewarnaan yang digunakan para peserta nampak sederhana, namun pesan tentang pentingnya udara bersih yang disampaikan sangat kuat.

Setelah dilakukan penilaian oleh tim juri Tunas Hijau, diputuskan sebagai Juara I adalah Yurangga P. dari SMP Negeri 5 Surabaya. Juara II adalah Alif Permana Wijaya dari SMP Negeri 31 Surabaya, sedangkan Juara III adalah Visky Wijaya dari SMP Negeri 15 Surabaya. Anggota tim juri Tunas Hijau adalah Puteri Lingkungan Hidup 2003 Nastiti Puspitosari, grafis Tunas Hijau M. Afif Amrullah dan Direktur Kampanye Anti Udara Kotor Septian Yudha Pramana. Ketiga pemenang tersebut berhak atas tropi wali kota Surabaya dan sertifikat.

Pada komik pendek yang dibuat oleh Yurangga P. dari SMP Negeri 5 Surabaya mengkritisi banyaknya knalpot sepeda motor yang dibiarkan bocor sementara mesin kendaraan sangat jarang diservis. “Padahal udara bersih adalah kebutuhan hakiki manusia,” kata Yurangga dalam komiknya. Lebih lanjut, dalam komiknya, Yurangga membahas sampah-sampah organik yang masih sering dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan oleh masyarakat kita. “Padahal sampah organik yang dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan akan menyebabkan polusi udara yang tinggi,” kata Yurangga pada komiknya. (roni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.