Melakukan Pengolahan Sampah Daun di Hutan SMPN 16 Surabaya

SMP Negeri 16 Surabaya mendapat suntikan motivasi untuk melanjutkan program lingkungan hidup di sekolahnya, Rabu (1/7). Di saat liburan sekolah seperti ini, sekolah yang berlokasi di Mastrip Bogangin Surabaya ini kedatangan tamu empat orang pemuda cewek dari empat negara. Keempat pemuda itu adalah simpatisan Tunas Hijau. Mereka adalah Pasquella van der Jagt dari Belanda, Sun Yi Feng atau biasa dipanggil Ivone dari China, Li Dan Dan dari Hongkong, dan Mandy Lim Pei Mun dari Malaysia. Keempat simpatisan Tunas Hijau itu didampingi aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni dan Afif Amrullah.

Keempat pemuda simpatisan Tunas Hijau itu sempat kagum dengan keadaan sekolah dipenuhi dengan tanaman Sansivera atau juga dikenal tanaman lidah mertua. Tanaman Sansivera ini tidak hanya banyak ditanam di taman-taman sekolah, namun juga banyak ditanam di pot-potan yang juga banyak ditempatkan di setiap sudut sekolah. Maklum, tanaman Sansivera sudah sejak dua tahun lalu dijadikan sebagai maskot SMP Negeri 16 Surabaya. “Tanaman Sansivera merupakan maskot SMP Negeri 16 Surabaya,” kata guru koordinator lingkungan hidup SMP Negeri 16 Surabaya Karina Trimawati.

Dijelaskan Karina bahwa pemilihan tanaman Sansivera dikarenakan bentuk tanaman ini yang unik. Tanaman ini berbeda dengan tanaman kebanyakan yang memiliki daun dan ranting atau batang yang berbeda. Daun dan batang tanaman ini sama, karena tanaman ini hanya memiliki daun yang yang juga berfungsi sebagai batang. Namun, pembiakan tanaman sangat mudah. Bisa dengan stek atau potong daun, tunas atau pembelahan. Tanaman ini juga dapat tumbuh di dalam ruangan yang tidak mendapat sinar matahari sama sekali,” kata Karina.

Sementara itu, di Hutan Sekolah SMP Negeri 16 Surabaya, Tunas Hijau mengajak keempat pemuda simpatisan Tunas Hijau dari luar negeri untuk mengolah sampah dedaunan yang lama menumpuk di dalam tong komposter. Keempat pemuda dan beberapa anggota tim LH SMPN 16 Surabaya lantas bersama-sama menuangkan semua sampah dedaunan yang ada di dalam tong tersebut. “Secara berkala setiap minggu sekali, sebaiknya isi tong komposter ini sebaiknya dikeluarkan semua. Sampah dedaunan yang berada di bagian atas lantas dipindah di bagian dalam. Demikian juga sebaliknya sampah dedaunan yang berada di bawah dipindah ke bagian atas,” kata aktivis senior Tunas Hijau Zamroni.

Disampaikan Zamroni bahwa pemindahan sampah itu berfungsi untuk membantu proses penghancuran sampah dedaunan. “Jangan lupa menyiramkan air secukupnya pada sampah dedaunan itu bila kondisinya nampak kering. Ini diperlukan untuk menjaga proses penguraian tetap berlangsung, karena proses penguraian sampah dedaunan akan lambat bahkan berhenti bila kondisi dedaunannya kering,” kata Zamroni sambil meminta anak-anak dan pemuda itu mengumpulkan dedaunan kering yang berguguran di lokasi hutan SMP Negeri 16 Surabaya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.