Pembekalan Lingkungan Hidup di SMA Santa Maria Surabaya

Hari pertama masuk sekolah biasanya dimanfaatkan oleh pihak sekolah dan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) tersebut untuk memperkenalkan kondisi sekolah kepada siswa-siswi baru. Masa ini biasanya disebut Masa Orientasi Siswa (MOS). Namun, agaknya hal itu sedikit berbeda dengan yang dilakukan oleh SMA Santa Maria Surabaya. Di saat sekolah lain hanya sibuk menggelar MOS untuk siswa baru, di SMA Santa Maria selain MOS untuk siswa barunya, juga ada pembinaan bagi kelas XI dalam bidang lingkungan hidup. Pembinaan tersebut dilakukan selama 3 (tiga) hari yakni mulai 13-15 Juli 2009.

Pembekalan tersebut digelar dengan mengundang Tunas Hijau sebagai pemandu dan pembimbing siswa SMA Santa Maria Surabaya kelas XI tersebut. Pembekalan tersebut dibagi menjadi 3 (tiga) tahap, yakni pembekalan materi lingkungan yang digelar pagi hingga siang tadi, Senin (13/7). Tahap kedua yaitu observasi lingkungan dan kegiatan lapangan yang bernuansa lingkungan di TPA Sampah Benowo, Sungai Jagir Wonokromo, Pantai Kenjeran dan Hutan Mangrove Wonorejo. Pada hari terakhir pembekalan, sekitar 200 siswa diminta berbagi pengalaman tentang keempat tema tersebut.

Pada pembekalan hari pertama, aktivis Tunas Hijau yang terdiri dari 10 orang, yakni 5 aktivis Tunas Hijau dan 5 pemuda simpatisan dari negara lain (4 China dan 1 Australia) memberikan penjelasan tentang dampak dari aktifitas manusia yang sering kali berakibat buruk terhadap lingkungan sekitar, seperti yang dibahas oleh kelompok TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) Benowo. Menurut Chandra Ghutama, salah satu aktivis Tunas Hijau yang mendampingi kelompok TPA Benowo, banyaknya sampah yang ada di TPA Benowo tersebut sangat mempengaruhi kondisi masyarakat sekitarnya. Salah satunya dengan adanya bau yang sering menyerang terutama saat siang hari ataupun saat musim hujan.

Sebenarnya, lanjut Chandra yang biasa dipanggil Nchun, hal itu bukan sepenuhnya salah dari pemerintah kota dalam hal ini adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, karena kalau saja sampah-sampah yang berasal dari penduduk Surabaya sebelum menuju ke TPS (Tempat Penampungan Sampah Sementara) bisa dipilah dan diolah terlebih dahulu, kemungkinan besar bau tersebut bisa dikurangi dan tentunya mengurangi timbunan sampah yang ada di TPA Benowo Surabaya.

Selain pembahasan tentang TPA Benowo, Tunas Hijau juga membahas tentang peranan hutan mangrove dan kondisi mangrove di Surabaya. Pembahasan ini cukup unik karena yang menyampaikan adalah mahasiswa simpatisan Tunas Hijau dari Australia Pippin Barry. Menurut Pippin, keberadaan hutan mangrove di Surabaya saat ini terancam oleh munculnya tambak-tambak ikan milik penduduk sekitar hutan mangrove tersebut. Kondisi ini diperparah dengan banyak sampah yang ada di antara akar-akar pepohonan yang berasal dari lautan.

Berbeda dengan yang disampaikan oleh Bram Azzaino aktivis senior Tunas Hijau yang membahas tentang kondisi air yang ada di Surabaya. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bram bahwa hampir 83% kondisi air di Surabaya tercemar oleh limbah pemukiman sedangkan sisanya 13% berasal dari pabrik. Sebagian besar limbah-limbah yang berasal dari pemukinan berupa kotoran dan detergen.

Dari 4 (empat) kelompok tersebut, salah satunya mengalami sedikit kendala yakni pada LCD proyektor yang digunakan untuk menampilkan slide presentasi tiba-tiba tidak menyala. Namun masalah tersebut segera diatasi oleh aktivis Tunas Hijau yang mendampingi kelompok pantai. Meskipun tanpa media proyektor, Narendra aktivis Tunas hijau menyampaikan permasalahan laut secara gamblang. Menurut Narendra, banyaknya sampah yang ada di pantai atau laut itu diakibatkan oleh sampah-sampah masyarakat perkotaan yang membuang sampah di selokan. Sehingga sampah-sampah tersebut terbawa dan menuju ke laut.

Menurut Johanes Metekohy guru Bahasa Inggris kelas X dan XI SMA Santa Maria, kegiatan ini merupakan awal dari pembekalan pembelajaran lingkungan yang akan diadakan oleh SMA Santa Maria Surabaya. Rencanannya, lanjut Johanes, akan ada tambahan pelajaran yang dimasukkan dalam muatan lokal yang diberikan kepada siswa kelas X dan XI. ”Kami sengaja memberikan porsi lebih terutama bagi kelas XI, agar nantinya bisa memberikan contoh-contoh yang baik kepada adik-adiknya yang kelas X,” ujarnya.

Pembekalan di hari pertama tersebut mendapat sambutan positif dari siswa SMA Santa Maria Surabaya, seperti yang disampaikan oleh Ardi Surya siswa kelas IX IS 1. Menurut Ardi, kegiatan ini sangat berdampak positif terutama untuk menumbuhkan semangat siswa untuk mencintai lingkungan sekolah dengan cara minimal membuang sampah pada tempatnya. ”Harapan saya semakin sering kegiatan ini diadakan, semakin besar pula kepedulian siswa-siswa SMA Santa Maria terhadap lingkungan hidup,” kata Ardi Surya. (adetya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.