Ajak Siswa SDK Kristus Raja Membenahi Komposter

Surabaya- Daniel, siswa anggota tim lingkungan hidup SDK Kristus Raja Surabaya, nampak paling bersemangat mengaduk isi keranjang komposter begitu aktivis Tunas Hijau Dwi Wisudawan meminta 20 siswa untuk membenahinya, Sabtu (12/9). Daniel bahkan lupa bahwa yang dihadapinya adalah tempat kumpulan sampah organik, yang tentunya berbau tidak sedap. Apalagi sebelumnya, di keranjang komposter itu, sampah organik tidak diolah dengan seharusnya. Alhasil, kurang dari semenit Daniel mencoba mengaduk isi keranjang komposter itu, dia langsung tertunduk dan muntah-muntah.

Melihat Daniel muntah-muntah, beberapa siswa anggota tim lingkungan hidup sekolah di Wisma Permai itu menertawakannya. Maklum Daniel muntah-muntah, komposter itu ternyata tidak hanya berisi sampah organik tetapi juga beberapa cicak dan belatung. “Cicak dan belatung ini muncul karena komposter ini tidak difungsikan sebagaimana harusnya. Kompos starter pada keranjang komposter ini tidak boleh dibiarkan kering, yang berarti tidak pernah ada sampah organik yang dimasukkan ke dalamnya dalam waktu yang lama,” kata aktivis Tunas Hijau Dwi Wisudawan didampingi aktivis senior Bram Azzaino.

Dengan secara rutin memasukkan sampah organik ke dalam komposter ini, berarti terjadi pengadukan pada keranjang komposter ini. “Pengadukan yang sering itu akan mempercepat proses pembusukan sampah organik yang ada. Bila keranjang komposter ini sudah penuh, maka kompos yang boleh diambil seyogyanya hanya sepertiga saja. Sementara kompos yang dua per tiga tetap ditempatkan di dalam keranjang sebagai media selanjutnya,” kata Dwi Wisudawan. Ditambahkan Dwi bahwa sampah organik baru yang akan dimasukkan seharusnya ditempatkan di dalam kompos yang ada di keranjang. “Seperti kucing kalau buang kotoran,” kata Dwi.

Ditambahkan Bram Azzaino bahwa yang terpenting dalam pengolahan sampah organik ini adalah kemauan untuk melaksanakan pengetahuan yang didapat. “Pokoknya, setiap kali ada sisa makanan maka harus diolah di komposter ini. Kalau tidak ada kemauan, maka komposter ini hanya akan menjadi hiasan di sekolah,” kata Bram Azzaino. Selanjutnya Bram Azzaino dan Dwi Wisudawan mengajak siswa anggota tim lingkungan hidup itu membenahi tong komposter yang digunakan untuk mengolah sampah dedaunan kering. (dwi/bram)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.