Kembangkan Project Biogas Dan Pengomposan, Environment Club SMA Ciputra Survei Dusun Mligi, Pacet

Jika tidak ada halangan, tidak lama lagi Dusun Mligi, Pacet segera memiliki instalasi biogas dan pengomposan sampah organik terpadu. Di dusun yang menjadi binaan Tunas Hijau ini, akan dikembangkan dua project ramah lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh Environment Club SMA Ciputra. Rencana pelaksanaan projectbiogas dan pengomposan ini diawali dengan survei yang dilakukan oleh lima siswa SMA Ciputra. Dengan dipandu beberapa aktivis Tunas Hijau, kelima siswa ini mengunjungi instalasi biogas yang berada di Dusun Cembor, Kecamatan Trawas, Mojokerto. Kunjungan ke instalasi biogas ini digunakan sebagai referensi untuk menentukan metode paling efisien untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas di Dusun Mligi, Kecamatan Pacet.

Pada survei ini, tim biogas yang dipimpin oleh Vincent mencatat beberapa temuan-temuan penting. Diungkapkan Vincent, Biogas yang dikembangkan di Dusun Cembor kotoran sapi telah mencakup sistem penggunaan kandang komunal, yaitu satu kandang sapi yang digunakan untuk 50 ekor sapi sekaligus. Kandang komunal ini digunakan bersama-sama oleh sepuluh peternak sapi perah. Kotoran-kotoran sapi yang dihasilkan disalurkan ke bak penampungan. Selanjutnya diencerkan dengan dicampur air dan dimasukkan ke dalam tabung beton.

Untuk mengolah seluruh kotoran sapi dalam kandang komunal, digunakan  tiga tabung beton dengan garis tengah tiga meter. Berbeda dengan di Dusun cembor, sistem kandang yang digunakan penduduk Dusun Mligi masih tradisional. Sapi perah dipelihara di kandang terpisah, sesuai dengan lokasi lahan pertanian masing-masing. Pemanfaatan kotoran sapi yang dihasilkan masih relatif sederhana. Kotoran yang dihasilkan hanya di tumpuk dan dibiarkan sampai kering, dan selanjutnya digunakan untuk  pupuk kandang.

Selain project biogas, tim survei Environment Club SMA Ciputra juga merencanakan pengembangan pengomposan untuk mengolah sampah basah yang dihasilkan penduduk Dusun Mligi. Berbeda dengan tim biogas, tim pengomposan yang dikomandani oleh Sinta langsung melakukan observasi sistem pengolahan sampah, dan wawancara terhadap beberapa penduduk desa.

Menurut penuturan siswi kelas XI yang juga menjabat sebagai ketua OSIS SMA Ciputra, terdapat beberapa metode pengomposan yang sesuai untuk diterapkan Di Dusun Mligi. Mulai pengomposan sampah basah secara personal sampai dengan komunal layak untuk di terapkan. Tapi harus didukung dengan edukasi tentang pengolahan sampah kepada masyarakat. Sinta beserta anggota timnya merencanakan beberapa penyuluhan tentang pengolahan sampah kepada penduduk untuk mengawali pelaksanaan project pengomposannya.

Turut serta juga Indah Anggraini yang aktif mendampingi siswa-siswi anggota Environment Club selama pelaksanaan survei. Guru pengajar yang juga sebagai kordinator kelas XI ini mengungkapkan bahwa pilihan untuk pelaksanaan project lingkungan hidup ini bukanlah tanpa alasan. Diungkapkan Indah bahwa dukungan dari aktivis-aktivis lingkungan Tunas Hijau sangat membantu keberhasilan project-project lingkungan hidup yang dilaksanakan anak-didiknya. “Pelaksanaan kegiatan lingkungan hidup ini merupakan salah satu syarat utama bagi peserta untuk memperoleh Sertifikat IB, yaitu standart keberhasilan pendidikan sesuai dengan kurikulum internasional yang diterapkan di SMA Ciputra,” kata Indah. (geng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.