Ajak Siswa SD Theresia I Surabaya Perbanyak Resapan Air Tanah

Surabaya- Rasa ingin tahu dapat mendorong seseorang untuk mengubah kebiasaannya. Kata-kata ini cukup membekas di hati kami ketika melakukan pembinaan kepada 40 siswa yang tergabung dalam tim lingkungan hidup SDK Santa Theresia I Surabaya. Untuk yang ketiga kalinya dalam bulan ini, Selasa (20/10). Disambut cuaca Surabaya yang sudah terasa cukup panas di pagi hari, walau jam tangan masih menunjukkan pukul 09.00 wib, kami mulai beraktifitas membagi “virus” cinta lingkungan kepada para siswa yang ada di SDK Santa Theresia 1 ini.

Dengan antusias yang tinggi mereka menghujani para aktifis Tunas Hijau dengan berbagai pertanyaan tentang usaha pelestarian lingkungan. Bahkan simpatisan Tunas Hijau dari Inggris James Ogilve sampai kewalahan melayani pertanyaan-pertanyaan mereka tentang perbandingan kondisi lingkungan hidup di Surabaya dengan negaranya, Inggris. Dengan celoteh khas anak kecilnya, mereka terus menanyakan setiap hal yang kami sampaikan dengan detailnya, bukti betapa antusiasnya mereka untuk membuat perubahan. Ketika aktivis senior Tunas Hijau Bram Azzaino bertanya tentang Terarium yang telah mereka buat seminggu lalu, dengan semangat dan bangganya para siswa yang tergabung di tim lingkungan hidup ini menunjukkan terarium mereka.

Pada pertemuan ini Tunas Hijau berbagi tentang bagaimana memperbanyak air tanah dengan membuat lubang resapan air Biopori. “Cara buatnya gimana, Kak? Fungsinya apasaja?” ujar Jovian, siswa kelas VI yang memang dari semula begitu semangat untuk kegiatan lingkungan ini. Terbukti dia sering mengacungkan tangan menanyakan detail dari penjelasan yang diberikan oleh Bram Azzaino yang kemudian segera dicatatnya di buku tulis yang terus dia pegang sejak awal.

“Biopori selain dapat menambah jumlah air tanah, dapat juga berfungsi untuk mengomposkan sampah daun,” kata Narendra, aktifis Tunas Hijau lainnya, menambahkan penjelasan sebelumnya. “Ayo kita coba membuatnya”, imbuhnya lagi. Dengan dibagi menjadi 3 kelompok, mereka mulai mencoba membuat biopori di sekitar taman depan sekolahnya. Dengan alat bantu bor besi manual, mereka membuat lubang biopori. Walau alat yang mereka pegang cukup berat, namun mereka tetap semangat.

Mereka bersama-sama mengangkat alatnya bor tersebut dan mulai memutar perlahan sampai lubang mulai terbuat. Peluh yang mengalir karena cuaca serta beratnya aktifitas tak menghalangi mereka untuk berbuat suatu hal nyata dalam memperbaiki lingkungan. Bergantian mereka memutar alar bor, kemudian bersama-sama mengumpulkan daun-daun untuk dimasukkan di lubang yang telah mereka buat.

Di usia yang masih belia ini mereka terus berusaha mencari tahu apa yang mereka bisa lakukan untuk pelestarian lingkungan hidup, tanpa embel-embel mereka melakukan ini demi mengejar penghargaan semata. Dengan kepolosan serta keluguannya mereka menikmati hari-harinya untuk membuat lingkungannya lebih baik. Satu pelajaran bagi kita semua, jika anak seusia mereka begitu semangatnya membuat suatu perubahan, seyogyanya kita yang lebih dewasa bisa jauh lebih semangat untuk membuat lingkungan hidup yang asri untuk tempat tinggal anak-anak kita di kemudian hari. (dony)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *