Finalis Pangput 2009 Malang Raya Berbagi Cerita Tentang Pemanasan Global Di SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang

Malang- Para finalis pangeran dan puteri lingkungan hidup 2009 Malang raya, Jumat (4/12), sejak pukul 08.00 wib, mulai berdatangan di Aula Nadya Women Centre, Jalan Semeru 76 Kota Malang. Mereka membawa peralatan dan bahan yang mereka siapkan untuk berbagi cerita lingkungan hidup di SDN Kidul Dalem 2 Kota Malang dan Malang Town Square (MATOS) – pusat perbelanjaan di Kota Malang. Berbagi cerita lingkungan hidup ini merupakan tahapan yang harus dilalui para finalis sebelum masa karantina dan grand final minggu depan.

Pada tahapan berbagi cerita lingkungan hidup ini, menurut Direktur Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2009 Nizam Wahyu Ardhika,  para finalis harus menekankan kepada contoh-contoh perilaku ramah lingkungan hidup yang harus dilakukan setiap anak. “Bila kalian berbagi cerita lingkungan hidup dengan para siswa dari sekolah lain, harus ada penekanan pada hal-hal sederhana tapi nyata yang harus dilakukan anak-anak seusiamu. Hal-hal sederhana itu adalah perilaku ramah lingkungan hidup,” tutur Nizam, pemuda asal surabaya ini.

Tepat pukul 09.30 wib, para finalis tiba di SDN Kidul Dalem 2, mereka terbagi menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok mendapatkan satu kelas untuk berbagi cerita tentang pemanasan global. Di SDN Kidul Dalem 2 ini para finalis masuk mulai kelas 3-6. Di sekolah ini mereka mendapatkan antusias yang cukup meriah dari para siswa dan guru-guru pengajar. Kondisi seperti ini tentunya menjadi penyemangat khusus bagi para finalis.

Ketika berbagi cerita di kelas 4, para finalis terkejut dengan keadaan di bawah beberapa meja yang masih ada kotoran berserakan. Salah satu finalis, Annisa Larasati yang pelajar SMP Negeri 5 Kota Malang, lantas memberi komando kepada seluruh siswa untuk mengambil sampah di bawah meja. Sementara itu, menanggapi sikap para siswa di kelas itu, salah satu finalis Erhan mengatakan bahwa para siswa di kelas ini masih malu-malu dan masih suka diam. ”Namun mereka tetap antusisas untuk mengikuti sesi berbagi cerita lingkungan hidup dengan para finalis,” kata Erhan.

Lain halnya di kelas 3. Ada 2 anak yang sangat aktif dan sedikit membuat pusing para finalis untuk membuat kondisi kelas kondusif. Alhasil, dibutuhkan peran pemandu dari Tunas Hijau dan guru kelasnya untuk membuat para siswa di kelas 3 menjadi tenang. Di  kelas ini, para finalis juga berbagi permainan-permainan sederhana untuk menghidupkan suasana. Berbeda lagi dengan kelas 5. Di kelas ini anak-anaknya sangat aktif, terutama ketua kelasnya sangat dominan ketika bertanya tentang masalah pemanasan global. “Anaknya ramai dan sangat  aktif. Uniknya, anak-anak di kelas 5 ini sangat mudah menangkap materi yang kami sampaikan,” ujar Errin, finalis dari SMP Negeri 5 Kota Malang. (zam) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.