Pengenalan Ekosistem Sungai, Pesisir Dan Hutan Mangrove SD Theresia II di Muara Wonorejo

Surabaya-Mangrove atau di Indonesia lebih dikenal dengan tanaman Bakau adalah jenis tanaman pelindung yang bisa tumbuh di daerah pasang surut air laut. “Daerah pasang surut ini maksudnya, bila saat pasang maka daerah itu tergenangi air laut, bila saat surut maka daerah itu tidak tergenangi air laut,” kata aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni kepada 65 siswa kelas 5 SDK Santa Theresia II Surabaya di Pos Pantau II Hutan Mangrove Muara Wonorejo, Rabu (9/12) pagi. Keberadaan Tunas Hijau bersama para siswa sekolah yang berlokasi di Jl. Kalijudan 25-33 Surabaya itu dalam rangka pengembangan kurikulum pengenalan ekosistem sungai, pesisir dan hutan mangrove.

Tanaman selain mangrove, yang hidup di darat, tidak bisa hidup di daerah pasang surut air laut. “Demikian juga tanaman mangrove tidak bisa hidup di darat,” tambah Zamroni. Mangrove berperan sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem daerah pesisir. Dimana mangrove tumbuh dengan subur, maka di daerah tersebut banyak berkembang ikan dan hewan air lainnya. “Mangrove yang tumbuh subur juga identik dengan habitat burung-burung pantai,” jelas Zamroni sambil menunjuk beberapa ekor burung pantai yang bertengger di salah satu pohon mangrove.

Selain pengenalan peran mangrove, pada kegiatan ini para siswa juga diajak mengamati rusaknya ekosistem hutan mangrove dan daerah muara Wonorejo oleh banyaknya sampah-sampah non organik. Sampah-sampah non organik di daerah itu tidak hanya menumpuk di lumpur, namun banyak juga yang nyangkut di ranting-ranting pohon mangrove. “Ternyata sampah non organik yang tidak diolah dengan benar di rumah-rumah akan berpotensi terbawa ke muara sungai seperti ini,” kata Piniela Sutandi, siswa kelas 5A.

Sementara itu, untuk menuju ke Muara Sungai Wonorejo itu, para siswa itu menggunakan tiga perahu motor. Perjalanan menggunakan perahu motor itu dimulai dari Bosem Wonorejo, sekitar 7 kilometer dari muara sungai. Selama perjalanan menuju muara sungai itu, para siswa didampingi 3 aktivis Tunas Hijau Mochamad Zamroni, Bram Azzaino dan Dony Kristiawan terus melakukan pengamatan kondisi sungai di sepanjang jalan yang dilewati. Dari pengamatan itu, mereka melihat berbagai jenis burung, kerang, kepiting, kera ekor panjang dan hewan-hewan air lainnya.

Lebih lanjut, dari pelaksanaan pengembangan kurikulum itu, para siswa secara individu diminta membuat beberapa media komunikasi tentang tiga ekosistem yang mereka pelajari. Media komunikasi itu diantaranya poster, komik, puisi dan karangan bebas. Mereka secara kelompok piket harian juga diminta merencanakan pertunjukan di depan banyak orang dengan mengangkat pesan peduli lingkungan hidup khususnya hutan mangrove. Selanjutnya, semua media komunikasi dan unjuk kemampuan siswa akan dikemas dalam pameran khusus di sekolah minggu berikutnya. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.