RW VIII Pegirian, Simbol Perkampungan Madura Bisa Hidup Bersih Penilaian Hari VIII Surabaya Berbunga 2009

Surabaya- Bak seorang komandan upacara, Joko, salah satu anggota tim juri Surabaya Berbunga 2009 dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya menerima laporan ketua RT 04 RW VIII Kelurahan Pegirian Surabaya terkait dengan kesiapan warga kampung Tenggumung Karya II dalam penilaian Surabaya Berbunga 2009, Selasa (8/12). Yang lebih unik adalah ketika menilai RT 03 RW VIII, terlihat 2 anak berpakaian seperti prajurit kerajaan lengkap dengan tombak dan tamengnya, seolah-olah mereka adalah penjaga gerbang RT 03 RW VIII.

RT 03 RW VIII Kelurahan Pegirian Surabaya bisa dikatakan sebagai wilayah pinggiran, namun upaya yang dilakukan warga layak diacungi jempol. “Kampung kami pinggiran, tapi kami berusaha mengangkat nama baik wilayah kami, terutama dalam hal kebersihan lingkungan. Mayoritas penduduk kami adalah orang Madura yang dianggap kurang peduli terhadap lingkungan hidup, padahal kami bisa merubah itu,” ujar salah satu pengurus kampung dengan logat Madura yang khas.

Lain lagi yang ditemukan tim juri saat berkunjung di RT 10 RW IV Kelurahan Perak Barat, guna mempercantik wilayahnya, warga bergotong royong membuat mural atau lukisan dinding. Namun, kali ini, dindingnya adalah jalan paving. Sangat unik, mengingat gambar yang dibuat adalah macam-macam hewan, diantaranya gurita, kupu-kupu, kura-kura, singa dan ikan. Tidak ketinggalan juga pesan-pesan lingkungan hidup juga dilukis di jalan tersebut. Sayangnya upaya ini tidak diikuti oleh RT-RT lainnya di wilayah RW IV Kelurahan Perak Barat.

Kalau Kelurahan Perak Barat Surabaya melukis jalan untuk mempercantik kampung mereka, lain lagi dengan yang dilakukan warga Kelurahan Gading RT 09 RW XVIII. Untuk menambah cantik dan menjadi ikon kampung tersebut, warga RT 09 membuat miniatur Tugu Pahlawan yang tingginya sekitar 3 meter. Miniatur ini diletakkan di dekat pos penjaga. Uniknya, bahan dasar membuat replika patung ikan Sura dan Buaya adalah berasal dari bubur kertas. Upaya ini dilakukan agar warga bisa tahu bahwa kertas dapat dimanfaatkan.

Penilaian hari ini merupakan hari terakhir sejak penilaian pertama 42 besar pada 30 Nopember. Sebanyak 42 RW telah dipantau secara lapangan. Dari catatan Tunas Hijau, sebagian besar wilayah RW yang masuk nominasi 42 Surabaya Berbunga 2009 masih mengandalkan penghijauannya dan tidak diimbangi dengan pengolahan sampah yang bagus pula. Menurut aktivis Tunas Hijau Adetya Firmansyah, salah satu juri Surabaya Berbunga 2009, hal ini akan mempengaruhi hasil nilai kampung tersebut. “Penilaian Surabaya Berbunga 2009 tidak hanya pada penghijauan saja. Penilaian juga dilakukan pada kebersihan dan pengolahan sampah,” kata Adetya Firmansyah. (det)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *