SD Hang Tuah 10 Juanda Bersiap Jadi Produsen Pupuk Kompos

Sidoarjo- Dimanapun manusia berada, sampah selalu dihasilkan. Bila tidak ditangani serius, maka sampah yang dihasilkan akan menjadi masalah besar. Hal ini seperti yang terjadi di SD Hang Tuah 10 Juanda, Sidoarjo, seperti yang disampaikan oleh Kepala SD Hang Tuah 10 Marsoedi kepada Tunas Hijau, Sabtu (5/12) siang, di sela pembinaan lingkungan hidup bersama para guru pengajar sekolah itu. “Lahan sekolah ini sekitar 1,3 hektar. Banyak pepohonan pelindung yang tumbuh subur di sekolah ini. Alhasil, setiap hari, banyak sampah dedaunan yang dihasilkan,” kata Marsoedi kepada dua aktivis Tunas Hijau Bram Azzaino dan Mochamad Zamroni.

Menanggapi keluhan Marsoedi, disampaikan Tunas Hijau bahwa sampah daun yang banyak dihasilkan sekolah sebenarnya bukan suatu musibah. “Banyaknya sampah dedaunan yang dihasilkan adalah potensi yang bisa menjadikan sekolah sebagai produsen pupuk kompos. Apalagi dengan lahan luas yang dimiliki Hang Tuah 10 dan banyaknya taman, tentunya kebutuhan pupuk kompos sangat tinggi. Bila sampah dedaunan yang dihasilkan diolah menjadi kompos, maka sekolah tidak perlu lagi membeli pupuk kompos dari luar,” jelas Mochamad Zamroni.

Permasalahannya, dengan jumlah siswa sekitar 1300 orang, jumlah sampah yang banyak dihasilkan tidak hanya sampah dedaunan. Sampah plastik menjadi sampah yang juga banyak dihasilkan, terutama dari pembungkus jajanan dan minuman para siswa. Menanggapi masalah sampah plastik ini, Widodo, salah satu guru, menyarankan agar sekolah menerapkan kebijakan pengurangan barang berkemasan plastik. Sementara itu, Zamroni berpendapat bahwa upaya pengurangan penggunaan barang yang berpotensi menghasilkan sampah harus dilakukan. “Sebelum upaya penggunaan kembali dan daur ulang sampah non organik,” kata Zamroni.

Selesai sesi lingkungan hidup dengan para guru, Tunas Hijau melanjutkan berkeliling setiap sudut sekolah yang berlokasi di Jl. Tangkuban Perahu 5 Juanda, Sidoarjo itu. Ketika sampai di sudut belakang sekolah, tepatnya di dekat pintu keluar belakang, ada aktivitas pembakaran sampah di tempat sampah sekolah. Bila diamati, pembakaran sampah merupakan agenda rutin yang dilakukan petugas kebersihan sekolah. Sampah-sampah yang dibakar tidak semuanya jenis sampah non organik atau sampah kering. Namun, ada juga jenis sampah basah atau sampah organik.

Menanggapi pemandangan kurang bagus itu, Arianti, salah satu guru yang menyertai Tunas Hijau, menyatakan bahwa aktivitas pembakaran sampah ini sama sekali tidak dibenarkan. “Pembakaran sampah seperti ini jelas tidak dibenarkan. Polusi udara yang membahayakan kesehatan manusia dan menurunkan kualitas udara menjadi dampak dari pembakaran sampah ini. Sekolah harus segera melakukan upaya nyata agar pembakaran sampah tidak dilakukan kembali di waktu mendatang,” kata Arianti, guru yang baru 2 tahun pindah mengajar di SD Hang Tuah 10 Juanda. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.