Siswa Kelas 5 SDN Petemon 13 Kampanye Air Di Sekitar Sekolah

Surabaya- Peringatan Hari Air Sedunia yang diselenggarakan SDN Petemon 13 Surabaya tahun ini lebih meriah dan beragam daripada tahun sebelumnya. Peringatan ini mereka awali dengan menggelar video conference dengan sister schoolSD Seiko di Jepang tentang air. Kegiatan dilanjutkan dengan lomba poster air bagi siswa kelas 1 dan 2. Mereka juga menggelar lomba menulis artikel tentang air bagi siswa kelas 6. Sedangkan siswa kelas 3 dan 4 melakukan kerja bakti membersihkan sekolah. Sementara siswa kelas 5 melakukan kampanye tentang air dengan berjalan kaki melewati pemukiman di sekitar sekolah, Minggu (28/3) pagi, yang merupakan puncak kegiatan.

Pada puncak peringatan Hari Air Sedunia ini seluruh siswa kelas 5 ikut serta. Jumlahnya lebih dari 80 orang. Mereka mengenakan pakaian bebas dan bersepatu. Sebagian dari mereka membawa poster bertema peduli air yang mereka buat untuk berkampanye. Uniknya, pada kampanye ini, mereka tidak hanya menyuarakan pentingnya air kepada pengguna jalan yang mereka temui selama melakukan perjalanan sepanjang sekitar 500 meter. Para siswa juga memungut sampah yang mereka temui yang jaraknya 2 meter.

Memungut sampah yang jaraknya dua meter dari tempat berdiri menjadi penekanan pada kampanye peduli air ini. Menurut aktivis Tunas Hijau Akbar Wahyudono yang mendampingi siswa kampanye, ini adalah tindakan nyata dari ajakan peduli lingkungan hidup yang kita sampaikan pada masyarakat sekitar. “Kita tidak hanya berkampanye secara teori untuk mengajak masyarakat peduli lingkungan hidup. Kita juga mengajak diri kita peduli lingkungan hidup dengan melakukan tindakan nyata, dengan memungut sampah yang kita jumpai,” kata Akbar kepada puluhan siswa peserta kampanye.

Di kampung belakang sekolah, Abul, Ricky dan beberapa siswa lainnya melihat seorang ibu yang sedang menggendong bayinya. Mereka lantas mewawancarai ibu yang sedang berdiri di samping sungai itu tentang kebiasaan warga sekitar terhadap sungai dan air. ”Selamat pagi, Bu. Bagaimana menurut Ibu kebiasaan warga sekitar tempat ini terhadap sungai dan air?” tanya Ricky diikuti Abul dan beberapa siswa lainnya. Dijawab oleh ibu itu bahwa masyarakat sekitar masih ada yang buang air besar (berak di sungai). ”Lebih banyak lagi yang membuang sampahnya langsung ke sungai,” jawab ibu itu.

Tidak jauh dari lokasi ibu yang menggendong bayinya itu, para siswa melihat beberapa orang warga kampung yang sedang kerja bakti membersihkan kampung mereka. Para siswa pun lantas mewawancarai salah seorang dari warga itu. “Sekali seminggu, warga di kampung kami melakukan kerja bakti. Kami membersihkan sampah-sampah yang berserakan. Kami juga membersihkan saluran air agar tidak tersumbat. Kami tidak pernah membuang sampah ke sungai sekitar sini. Tetapi, biasanya yang saya temui adalah bukan warga kampung kami yang membuang sampah sembarangan di sungai. Maksud saya orang yang melintas di jalan ini,” terang Yoyok yang bersedia diwawancarai oleh siswa SDN Petemon XIII.

Beberapa menit berselang, para siswa menjumpai saluran air terbuka yang tersumbat banyak sampah non organik. Para siswa lantas memunguti sampah non organik dari selokan air yang salurannya tersumbat itu. Sampah yang menyumbat adalah popok bayi, bungkus deterjen dan sebuah tas. “Saluran yang tersumbat ini seharusnya tidak boleh dibiarkan tersumbat, karena di musim penghujan seperti ini sangat berpotensi menimbulkan banjir,” kata Akbar Wahyudono kepada para siswa di sekitarnya. (akbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.