Ajak Perwakilan Semua Jurusan, EGS Awali Perubahan Lingkungan Di Kampus FBS UNESA

Surabaya- Untuk membuat perubahan harus diawali dengan kemauan untuk bertindak. Karena keinginan sebagus apapun tidak akan ada artinya tanpa adanya tindakan nyata. Hal tersebut menjadi fokus workshop yang diadakan olehEnglish Green Squad (EGS) jurusan bahasa Inggris Universitas Negeri Surabaya bersama Tunas Hijau, Senin (24/5). Bertempat di ruang Serbaguna Fakultas Bahasa dan Seni, komunitas cinta lingkungan hidup tersebut mengajak 50 orang perwakilan 7 jurusan yang ada di lingkup Fakultas Bahasa dan Seni untuk bersama-sama membuat perubahan untuk lingkungan hidup di kampus mereka.

Ketua EGS Cicik Anjar Wati mengatakan bahwa workshop yang dimulai sejak pukul 13.30 tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh EGS untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan hidup di kalangan mahasiswa di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya. Dony Kristiawan, salah satu aktivis Tunas Hijau, yang menjadi narasumber dalam workshop tersebut menekankan pentingnya mahasiswa untuk melakukan tindakan nyata. Dari segi pendidikan, tentunya seorang mahasiswa sangat paham sekali tentang isu global saat ini, yaitu climate change.

Banyak informasi pastinya juga bisa diketahui karena mudahnya akses teknologi informasi sekarang ini. Namun sangat disayangkan masih sedikit yang tergerak untuk bertindak melakukan upaya nyata guna menghambat pemanasan global.  Bahkan menurut Dony, para mahasiswa saat ini cenderung kalah oleh adik-adiknya usia SD dan SMP yang sangat peduli lingkungan. Terbukti dengan seringnya kita lihat di media massa kegiatan anak-anak sekolah yang berorientasi lingkungan. Ironisnya jarang sekali berita yang memuat aktivitas peduli lingkungan dari para mahasiswa.

Jalannya workshop yang lebih banyak didominasi pertanyaan dari para peserta menunjukkan tingginya animo audience untuk membuat perubahan di kampusnya. Masfufah, salah satu peserta yang berasal dari jurusan Sastra Indonesia mengungkapkan impiannya bahwa kampus tempatnya dia belajar selama ini bisa bebas dari sampah. Tentunya hal itu akan sangat menunjang belajar dengan nyaman selama menuntut ilmu disana. Prakteknya, masih banyak sampah yang berserakan karena ulah mahasiswa FBS sendiri. Untuk mewujudkan hal tersebut dia siap untuk mengawali perubahan di jurusannya.

Dari partisipasi aktif para peserta akhirnya terungkap bahwa selama ini belum adanya pembiasaan untuk peduli lingkungan. Minimnya slogan-slogan lingkungan serta kegiatan berorientasi lingkungan hidup di kalangan mahasiswa membuat kurangnya kepedulian tersebut. Bagaimana ada suatu kepedulian jika tidak adanya aktifitas yang memicu timbulnya hal tersebut. Pada dasarnya kebiasaan cinta lingkungan akan dengan mudah terbentuk jika dilakukan atau didengungkan secara terus menerus. Seperti testimoni dari Suud, aktifis Tunas Hijau yang belum genap 1,5 bulan bergabung. Dia mengatakan kepeduliannya tumbuh karena setiap hari selalu berkegiatan lingkungan serta mendapatkan info-info lingkungan secara terus menerus.

Di akhir workshop, Rukhan Asrori, salah satu peserta dari jurusan bahasa Inggris spontan maju ke depan dan meminta waktu untuk membahas action plan bersama. Mahasiswa yang juga selaku ketua BEMJ Inggris tersebut mengajak setiap perwakilan jurusan untuk merencanakan adanya aturan serta kegiatan yang berorientasi pendidikan lingkungan hidup bagi para mahasiswa. Selanjutnya, kegiatan yang akan diawali Minggu tersebut akan dikemas dengan cara yang unik dan variatif supaya timbul kepedulian di kalangan mahasiswa FBS.(dony)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.