Bersama Siswa SD Raden Patah Olah Sampah Organik Jadi Kompos

Surabaya- Sikap peduli lingkungan hidup harus ditanamkan sejak usia anak-anak. Sekolah harus menanamkan kepedulian itu tidak hanya secara teori, namun juga secara praktek. Dengan sikap peduli pada lingkungan hidup ini, berarti juga ikut serta pada upaya mengurangi dampak buruk perubahan iklim, isu nomor 1 dunia abad ini. Sikap peduli lingkungan hidup ini coba terus ditumbuhkan kepada para siswa SD Raden Patah Surabaya pada pembinaan lingkungan hidup Tunas Hijau di sekolah yang berlokasi diBalongsari Tandes, Senin (31/5). 40 siswa mengikuti pembinaan lingkungan hidup itu.

Pada pembinaan ini Tunas Hijau mengajak para siswa SD Raden Patah untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk. “Kami memiliki 5 keranjang komposter Takakura. Tetapi proses pengolahan sampah organik menjadi kompos ini tidak berjalan karena kurangnya pengetahuan siswa tentang proses pengolahan sampah,” Eni, wali kelas 5 dan koordinator lingkungan hidup kepada Tunas Hijau sesaat sebelum pembinaan. Pembinaan ini dimulai dengan pembagian kelompok dan pemberian tugas kelompok. “Kakak minta teman-teman buat 6 kelompok,” ujar Dono, aktivis Tunas Hijau.

Mendengar instruksi tersebut, puluhan siswa ini tampak bersemangat sekali mengikuti kegiatan ini. Tak lama setelah kelompok mereka terbentuk bentuk, mereka melaksanakan pokok tugas yang telah dibagikan. Kelompok putra memiliki tugas mengambil dedaunan yang jatuh di halaman sekolah mereka dan mengumpulkan sisa makanan yang ada di kantin sekolah mereka. Sedangkan tim putri memiliki tugas menyiapkan keranjang komposter Takakura dan mengolah sampah dedaunan yang dikumpulkan oleh kelompok putra.

Selama proses pengomposan, para siswa nampak sanga bersemangat. Mereka saling membantu antar kelompok lain. “Setelah sampah dedaunan dan sisa makanan terkumpul, olah ke dalam keranjang komposter Takakura. Kalau ada dedaunan dipotong kecil-kecil terlebih dahulu setelah itu dibasahi. Cukup basah saja, jangan sampai berair. Pastikan semua sampah terpendam dalam kompos. Jangan ada yang di atasnya. Setelah itu ditutup dengan sekam diatasnya dan ditutup rapat,” ujar Wachida, salah satu siswa, ketika mengajarkan kepada temannya. Seusai melakukan praktek pengomposan, di akhir sesi, mereka berkomitmen untuk mengecek dan mengolah keranjang komposter setiap harinya. (akbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.