Ibu-Ibu Kampung Stren Kali Gunungsari II Ajari Daur Ulang Sampah Plastik Ibu-Ibu Kampung Keputih

Surabaya- Tiga orang ibu kampung stren kali Surabaya Gunungsari II RT 6 RW 8 Kelurahan Sawunggaling, kampung mitra Tunas Hijau, mengunjungi kampung Keputih Tegal Timur RT 7 RW 8, Minggu (2/5) pagi. Kunjungan itu dalam rangka menjadi narasumber pelatihan pemanfaatan sampah plastik khususnya mi instan menjadi barang bernilai jual. Sedikitnya 30 ibu-ibu kampung Keputih Tegal Timur mengikuti pelatihan yang dihelat di balai kampung setempat.

“Tujuan kami didatangkannya ibu-ibu kampung Gunungsari ini untuk membagikan pengalamannya kepada ibu-ibu di kampung Keputih ini cara mendaur ulang sampah non organik khususnya plastik. Karena di daerah ini banyak sekali sampah plastik yang dihasilkan, namun nyaris tidak ada penanganan,” ujar Dinar Mahasiswi Fakultas Teknik Elektro ITS yang ketua program kampung binaan ini. Ditambahkan Dinar bahwa kebanyakan sampah plastik yang dihasilkan di kampong Keputih itu malah dibuang sembarangan.

Siti Aminah, ketua rombongan yang juga ketua PKK kampung stren Kali Surabaya Gunungsari II menyatakan bangga bisa berbagi pengetahuan dan ketrampilan tentang daur ulang sampah plastik kepada ibu-ibu kampung Keputih. “Kami sebelumnya juga diajari melalui pelatihan seperti ini di kampung kami. Tepatnya Desember lalu. Penyelenggaranya adalah Tunas Hijau dan Badan Lingkungan Hidup Jawa Timur. Setelah pelatihan yang diselenggarakan dua sesi itu, kami lantas menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Siti Aminah yang melatih didampingi Nyonya Wagino dan Nyonya Joko Santoso dari kampungnya.

Ditambahkan Aminah, bahwa yang diperlukan pada pemanfaatan sampah plastik pembungkus mi instan dan sedotan plastik ini adalah ketekunan dan kemauan untuk terus mencoba. “Kalau sudah ketagihan, biasanya ada dampak yang langsung terasa. Yaitu, ibu-ibu yang biasanya hanya ngerumpi jadi berkurang karena sibuk mendaur ulang,” kata Siti Aminah. Dampak lainnya, menurut Aminah, adalah sampah plastik bungkus mi instan, bungkus kopi dan sedotan plastik akan berkurang drastis. “Kita akan semakin tertantang untuk membuat barang layak pakai dengan model-model terbaru,” ujar Siti Aminah sambil terus memeragakan cara mendaur ulang sampah plastik kepada ibu-ibu kampung Keputih.(akbar/roni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.