Saling Pamer Program Sekolah di Pelatihan LH Bagi Pelajar SMA

Mojokerto- Hari kedua penyuluhan lingkungan kepada 100 pelajar SMA/sederajat Surabaya di Seloliman, Trawas, Mojokerto, Minggu (13/6), yang dipandu Tunas Hijau, menjadi ajang pamer program. Peserta perwakilan sekolah diberi kesempatan menyampaikan program lingkungan hidup yang telah dilakukan di sekolah masing-masing. Ahmad Firman, siswa kelas X SMA Negeri 21 mengawali sesi ini dengan menjelaskan bahwa setiap siswa SMAN 21 harus mematikan mesin kendaraan bermotor sebelum memasuki gerbang. “Daur ulang sampah plastik juga dilakukan di sekolah kami,” kata Firman.

Sedangkan Siti Muh Komariah, siswa kelas XI SMK Gema 45 menjelaskan bahwa di sekolahnya setiap siswa harus menanam pohon setiap tahunnya. “Sekolah kami memiliki banyak pohon berbuah. Setiap panen, sebagian buahnya dimakan warga sekolah, sebagian lagi dijual. Hasil penjualannya disumbangkan kepada panti asuhan di sekitar sekolah,” kata Komariah. Ditambahkan oleh siswa satu sekolahnya, Sulistyowati, bahwa penanaman bunga rosella dilakukan di lahan sekolah. “Bunga tanaman ini selanjutnya dijadikan obat dan dikonsumsi kepada seluruh warga sekolah,” tambah Sulistyowati.

Peserta perwakilan SMA Negeri 1 Surabaya, Luh Jingga, menjelaskan bahwa di setiap ruangan kelas sekolahnya harus ada tempat sampah terpilah organik dan non organik. “Di SMA Negeri 1 juga terdapat komposter aerob, meskipun yang mengelola komposter itu adalah petugas kebersihan sekolah,” kata Luh Jingga. Ditambahkan peserta dari SMA Negeri 1 lainnya, Ahmad Fuad, bahwa sampah non organic yang dihasilkan di sekolah dijadikan sebagai salah satu upaya penggalangan dana. “Caranya, sampah non organik yang terkumpul dan bernilai ekonomis dijual. Uang yang didapat digunakan untuk menambah dana kegiatan,” ungkap Fuad.

Sementara itu, melihat beberapa peserta perwakilan sekolah lain menyampaikan program peduli lingkungan hidup yang telah dilakukan di sekolah masing-masing, M. Zein Arizki juga  bermaksud pamer. Siswa kelas XI SMK Berdikari I itu menjelaskan bahwa setiap selesai praktikum elektro sekolah kami selalu menimbun baterai di dalam tanah. “Perbuatan ini telah lama dilakukan di sekolah kami sebagai wujud peduli lingkungan hidup,” kata Zein. Namun, tindakan SMK Berdikari I seperti disampaikan Zein tidak dibenarkan oleh aktivis senior Tunas Hijau yang memandu sesi itu. Diungkapkan Zamroni bahwa baterai bekas termasuk bahan beracun dan berbahaya yang tidak boleh sembarangan dibuang. (roni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.