SMA Ciputra Gandeng Tunas Hijau Persiapkan Proyek LH Dalam Gelaran Caretakers of the Environment International (CEI)

Mojokerto- Persiapan matang dilakukan tim SMA Ciputra Surabaya dalam ajang Caretakers of the Environment International(CEI) yang diselenggarakan di Lawang, Malang, Jawa Timur (4-10/7). Dalam konferensi ke-24 dan ke-2 di Asia setelah Hongkong pada 2007 ini, tim SMA Ciputra mengangkat proyek lingkungan hidup tentang pemanfaatan kotoran ternak sapi menjadi biogas, manajemen pengolahan sampah dan penghijauan. Keseluruhan proyek ini dilaksanakan di dusun Mligi, desa Claket, kecamatan Pacet, kabupaten Mojokerto, yang menjadi binaan Tunas Hijau Club. 

Seluruh pelaksanaan proyek lingkungan hidup ini dilakukan dengan pembiayaan yang unik, yaitu dengan penggalangan dana yang dilakukan siswa melalui berbagai kegiatan. Shinta Devi Rossaline, salah satu anggota tim menjelaskan bahwa selama empat bulan seluruh anggota kelompok yang berjumlah dua belas siswa menggelar berbagai kegiatan untuk menggalang dana. Diantaranya adalah mengadakan lomba dan berjualan. “Keuntungan dari berjualan inilah yang kami kumpulkan untuk pembiayaan proyek lingkungan hidup kami,” ungkap Shinta.

Sementara itu, di lokasi pelaksanaan proyek, di Dusun Mligi juga terlihat banyak sekali perubahan. Di setiap halaman rumah telah terdapat satu tempat sampah yang terbuat dari ban bekas. Total tempat sampah yang didistribusikan berjumlah 60 (enam puluh) buah. Jumlah ini  sesuai dengan jumlah keluarga yang ada di dusun Mligi. Keseluruhan tempat sampah ini dicat sedemikian menarik dengan logo SMA Ciputra.

Tidak hanya tempat sampah, beberapa tong komposter aerob telah tertanam di beberapa titik di dusun tersebut. Terdapat juga satu instalasi mini biogas. Instalasi ini mampu mengolah kotoran tiga hingga empat ekor sapi menjadi biogas yang mampu menggantikan fungsi elpiji dan kayu bakar untuk memasak. Semua fasilitas ini diberikan dengan didahului beberapa kali penyuluhan lingkungan hidup kepada ibu–ibu yang tergabung dalam PKK dan anak-anak di sanggar Bolas (Bocah Alas), sanggar anak-anak binaan Tunas Hijau.

Hal unik terjadi ketika anggota tim SMA Ciputra akan mendistribusikan tempat sampah kepada warga. Ketakutan akan tempat sampah yang tidak dipergunakan sebagaimana mestinya dan tanggung jawab warga pascapendistribusian sempat menghantui mereka. Setelah seluruh tim bermusyawarah, ide cemerlang pun dilontarkan oleh salah satu anggota yaitu Bella Kurniawan. Terinspirasi dengan sistem tanggung jawab kebersihan toilet di plaza-plaza yang ada si Surabaya, Bella mengusulkan untuk memberikan surat pernyataan dengan beberapa point yang harus dilaksanakan atas persetujuan menerima tempat sampah yang diberikan.

Beberapa poin tersebut diantaranya berisikan tentang kesediaan untuk merawat dan memperbaiki tempat sampah tersebut bila terjadi kerusakan. Tidak cukup dengan surat pernyataan yang dibubuhi tanda tangan penerima. Tempat sampah pun diberi nomor urut sesuai dengan surat perjanjian. Alhasil, enam puluh tempat sampah yang dibagikan pun mempunyai penanggung jawab.

Selain pembangunan instalasi mini Biogas dan pengolahan sampah, tim SMA Ciputra Surabaya juga melaksanakan Plant Fifety Trees. Penanaman ini dilakukan berdasarkan hasil survei, bahwa beberapa bibit pohon yang ditanam pada penghijauan beberapa bulan sebelumnya mengering sehingga perlu diganti. Pelaksanaan penghijauan yang sangat berdekatan dengan musim kemarau ditengarai menjadi penyebab utama.

Dalam rencana jangka panjang yang telah disusun, beberapa proyek lingkungan hidup akan kembali dilaksanakan di dusun Mligi. Diantaranya pembuatan depo pembuangan sampah sementara. Hal ini diungkapkan Indah Anggraeni, guru pembimbing SMA Ciputra. ”Kepala dusun  Mligi juga menyatakan akan membantu dan mendukung proyek anak-anak ini. Diantaranya dengan menyiapkan lahan dusun untuk lokasi depo penampungan sampah tersebut,” lanjut Indah Anggraeni.

Hal senada juga diungkapkanPublic Awarenness Tunas Hijau Club Sugianto, bahwa secara keseluruhan Tunas Hijau sangat terbantu dengan pelaksanaan beberapa proyek lingkungan hidup di dusun Mligi yang dilakukan oleh SMA Ciputra. ”Kami akan memaksimalkan proyek-proyek lingkungan hidup ini sebagai sarana edukasi lingkungan. Mengingat dusun Mligi adalah dusun yang diproyeksikan sebagai dusun ramah lingkungan hidup dan dusun pendidikan lingkungan hidup,” kata Sugiato. (geng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.