40 Isu Lingkungan Hidup Diperdebatkan Peserta Seleksi Penganugerahan Pangeran Dan Puteri Lingkungan Hidup 2010

Surabaya- Tepuk tangan beberapa kali terdengar bergemuruh di Ruang Pola lantai 3 Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya mengiringi penampilan para siswa sekolah dasar yang mengikuti debat lingkungan hidup, Minggu (22/8) pagi. Pada kegiatan yang merupakan seleksi tahap ketiga Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2010 ini masing-masing peserta mendapat jatah satu foto tentang isu lingkungan hidup. Mereka selanjutnya diminta menjelaskan permasalahan pada isu itu dan solusi dari permasalahan yang terjadi saat ini.

Xindy Imey Pratiwi, siswa kelas 6 SDN Kandangan I Surabaya mendapat kesempatan untuk mengupas isu penggunaan lampu hemat energi. Menurut Xindy, penggunaan lampu hemat listrik menjadi suatu keharusan saat ini. “Dengan menggunakan lampu hemat listrik, berarti kita menghemat biaya untuk membayar tagihan listrik bulanan dan meikut serta menyelamatkan lngkungan hidup,” ungkap Xindy. Dia menambahkan bahwa di rumahnya sudah tidak ada lampu dop atau lampu pijar yang boros listrik. “Semua lampu yang digunakan di rumah saya adalah lampu hemat listrik,” terang Xindy.

Berbeda dengan Xindy, Rafif S. Ramadhan peserta nomor 21 dari SD Al Muslim Wadungasri Sidoarjo mendapat kesempatan membahas isu tentang penggunaan deterjen. Dikatakan Rafif bahwa penggunaan deterjen berdampak pada lingkungan hidup khususnya saluran air dan sungai. “Penggunaan deterjen yang ramah lingkungan hidup menjadi cara untuk mengurangi dampak buruk penggunaan deterjen. Tidak terlalu sering mencuci baju juga bisa dilakukan,” jelas Rafif. Penggunaan deterjen ramah lingkungan akan mengurangi pencemaran air.

Isu tentang sampah botol bekas minuman menjadi isu yang harus dibahas oleh peserta nomor 188 Charizma Andany dari SDN Kandangan I Surabaya. Menurutnya, sampah botol bekas tidak baik untuk digunakan lagi. “Sampah plastik botol bekal minuman bisa didaur ulang menjadi vas bunga dan tudung saji,” kata Charizma Andany. Cara lainnya bisa juga dengan cukup dikumpulkan bersama sampah sejenis dan selanjutnay dijual kepada pemulung.

Penggunaan lampu dop atau bola lampu atau lampu pijar yang boros listrik menjadi salah satu isu yang dibahas juga pada seleksi debat lingkungan hidup ini. Savira Zakira, peserta dari SDN Manukan Kulon 3 Surabaya mendapat kesempatan untuk menjelaskan isu tentang penggunaan lampu boros listrik ini. Menurutnya, ciri-ciri lampu boros listrik adalah menyerap listrik yang tinggi padahal daya terangnya tidak begitu tinggi. “Lampu boros listrik biasanya tidak tahan lama.Beralih penggunaan lampu hemat listrik adalah langkah nyata untuk mengatasi isu ini,” terang Savira Zakira.

Penumpukan sampah di sungai seringkali disebabkan karena manusia tidak peduli dengan kelestarian lingkungan hidup. Ungkapan ini disampaikan oleh Zayyinah Chofsah dari SD Muhammadiyah Manyar Gresik. “Penumpukan sampah di sungai sering disebabkan oleh kebiasaan masyarakat membuang sampah di sungai. Akibatnya, muncullah sarang penyebaran penyakit,” ungkap Zayyinah Chofsah. Tentang solusi yang bisa dilakukan, Zayyinah akan mengingatkan orang-orang di sekitarnya agar tidak membuang sampah ke sungai. (roni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.