Amerika Serikat, Malaysia, China dan Belanda Ikuti International Food & Culture for Environment

Surabaya- Lebih 160 orang memadati selasar, ruang pertemuan dan swimming pool Hotel Bisanta Bidakara, Minggu (3/10) pagi hingga sore. Mereka adalah para finalis pangeran dan puteri lingkungan hidup 2010 yang berasal dari 16 sekolah dasar di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo. Mereka hadir bersama beberapa guru, teman dan orang tua mereka dalam rangka International Food & Culture 2010 (IFC) for environment. Hadir pula paguyuban pangeran dan puteri lingkungan hidup Malang raya dan participating country dari Amerika Serikat, Belanda, China atau Tiongkok dan Malaysia.

Kegiatan kali kedua yang diprakarsasi oleh Tunas Hijau tersebut dibagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi food dan sesiculture. Sesi food adalah sesi membuat makanan khas masing–masing negara dan sesi culture yakni sesi pemaparan utusan negara–negara peserta tentang kebudayaan dan penerapan pendidikan lingkungan hidup di negaranya. Begitu pembukaan selesai dilakukan, semua utusan dari keempat negara peserta bersama ratusan pelajar dan guru sekolah yang hadir memasak makanan khas negara peserta. Ilsya dan Sebastian dari Belanda memanfaatkan momentum tersebut untuk mengenalkan kudapan apple flapen.

Mohd. Fikri dari Malaysia memberikan demo kilat tentang cara pembuatan nasi lemak dan teh tarikh khas negeri Jiran Malaysia. Sedangkan Steven dan timnya dari China membuat makanan sejenis kwetiauw. Sedangkan perwakilan Konsulat Jenderal Amerika Serikat yang diwakili oleh Deputi Konsul Jenderal Pauline Kastner menyajikan menu istimewa yakni ayam kalkun panggang, apple pie dan pumpkin pie. Yang menarik dari perwakilan Amerika Serikat adalah mereka tidak memasak karena membawa menu yang siap saji. Hal ini menyebabkan ratusan peserta yang hadir berdesak-desakan untuk mencicipi makanan tersebut.

”Bila kita harus ke luar negeri hanya untuk mengetahui makanan dan khas budaya negara lain, maka akan banyak karbondioksida yang dihasilkan dari transportasi yang harus ditempuh ke luar negeri. Belum lagi bila transportasi yang digunakan adalah pesawat, maka gas karbondioksida yang dihasilkan akan semakin banyak. Semantara gas karbondioksida menjadi pusat perhatian dunia karena merupakan gas rumah kaca terbesar yang harus dikurangi volumenya di atmosfer bumi,” ujar Nyimas Salsabila, runner up I Puteri Lingkungan Hidup 2009 saat membawakan acara ini bersama aktivis Tunas Hijau Rendi Setyadi.

Deputi Konsul Jenderal Amerika Serikat Pauline Kastner menyambut baik program yang mencoba menyisipkan edukasi lingkungan hidup melalui pengenalan budaya dan makanan internasional ini. ”Konsulat Jenderal Amerika Serikat mendukung program ini, karena itu kami menyediakan sendiri makanan khas Amerika untuk semua orang yang hadir,” ucap Pauline Kastner. Hal senada juga disampaikan oleh Mohd. Fikri Mohd. Bakri dari YAWA Malaysia yang sengaja datang langsung dari Kuala Lumpur, Malaysia bersama putrinya Siti Khairina sehari sebelum pelaksanaan.

Para orang tua finalis pangeran dan puteri lingkungan hidup 2010 juga menyambut baik program yang rencananya dilaksanakan setiap tahun ini. Terbukti dari busana yang dikenakan oleh para finalis dan tim sekolah mereka masing-masing. Tergolong sedikit jumlah finalis yang hanya mengenakan busana batik. Kebanyakan dari para finalis mengenakan busana tradisional daerah-daerah yang ada di Indonesia. Teguh Sugeng Widodo, orang tua finalis pangeran lingkungan hidup Muhamad Naufal Haritsyah dari SD SAIMS menyatakan mendukung program ini, terlebih sekolah anaknya adalah sekolah berbasis alam.(black/ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.