Mahasiswa D3 Pengelolaan Hutan UGM Tularkan Kepedulian Hutan Kepada Anak-Anak Melalui Permainan Ular Tangga Tunas Hijau

Sleman- Setelah hari pertama Pengembangan Diri dan Self Motivation Rimbawan Muda 2010, para mahasiswa Diploma III Pengelolaan Hutan Universitas Gajah Mada (UGM) diajak untuk memikirkan aksi nyata sederhana yang bisa mereka lakukan, hari kedua Sabtu (2/10) diwarnai dengan banyaknya mahasiswa yang memunguti sampah di sepanjang desa dan hutan tempat mereka berkegiatan. Lebih dari 3 kantung sampah yang terkumpul, menunjukkan masih rendahnya pemahaman warga sekitar untuk melestarikan lingkungan hidup.

Sore harinya, mahasiswa baru Diploma III Pengelolaan Hutan UGM mengadakan penyuluhan lingkungan hidup bertemakan hutan kepada warga sekitar terutama anak-anak. Menariknya selain didampingi oleh aktivis senior Tunas Hijau Dony Kristiawan, turut serta pula fasilitator lingkungan dari negara Republik Ceko, Martina Sefrova. Berdua, mereka saling berbagi pengalaman penyelamatan lingkungan kepada mahasiswa Diploma III Pengelolaan Hutan UGM, termasuk juga upaya efektif mengedukasi orang lain.

Dalam memberikan penyuluhan lingkungan hidup tersebut mereka memanfaatkan media permainan ular tangga Tunas Hijau berukuran 4×4 meter yang bertema hutan. Perlu diketahui Tunas Hijau lembaga edukasi lingkungan hidup telah menciptakan permainan ular tangga lingkungan hidup dengan berbagai tema. Ular tangga lingkungan tersebut juga telah diadopsi oleh UNEP/Ozon Edu Programme. Khusus untuk Daerah Istimewa Jogyakarta, ular tangga lingkungan Tunas Hijau baru pertama kali ini dimunculkan di wilayah tersebut, dimana di Jawa Timur permainan ular tangga Tunas Hijau telah sangat populer sebagai media pembelajaran lingkungan hidup.

Dalam permainan ular tangga tersebut setiap anak dapat belajar tentang hutan, karena di setiap kotaknya telah tercantum informasi penting tentang hutan. Daya tarik permainan tersebut cukup besar. Terbukti tidak hanya anak-anak, para mahasiswa dan Martina Sefrova, fasilitator lingkungan dari Republik Ceko pun turut menikmati bermain ular tangga lingkungan hidup tersebut. Hal ini menunjukkan media permainan lingkungan hidup tersebut cukup efektif dalam memberikan pemahaman tentang lingkungan hidup bagi masyarakat.

Malam harinya dilakukan pembahasan tentang pentingnya edukasi lingkungan dalam penyelamatan lingkungan. Dony Kristiawan, aktivis senior Tunas Hijau, menceritakan pentingnya edukasi lingkungan terhadap anak-anak. Bila anak-anak tidak diberikan pemahaman lingkungan sejak dini, semua usaha perbaikan lingkungan hidup yang dilakukan saat ini tidak akan ada artinya, karena tidak akan ada generasi mendatang yang mengelola lingkungan  hidup yang telah diperbaiki.

Pentingnya edukasi kepada anak-anak juga disampaikan oleh Martina Sefrova, yang di negaranya sejak kecil anak-anak diajarkan untuk peduli lingkungan hidup oleh keluarga dan pendidikan di sekolah. Hampir sama dengan semua negara di Eropa, tak heran dalam hal kepedulian lingkungan masyarakat Eropa patut diacungi jempol.

Mereka berdua juga sempat menceritakan pengalaman saat sama-sama menjadi fasilitator lingkungan hidup pada Konferensi Lingkungan Hidup Internasional Let’s Take Care of the Planet di Brasil, Juni 2010. Diceritakan bahwa perhatian utama dunia saat ini adalah memberikan pemahaman lingkungan hidup kepada sebanyak mungkin orang. Pada dasarnya orang tidak peduli terhadap lingkungan hidup bukan karena tidak mau. Melainkan karena mereka tidak tahu. Inilah peran edukasi menjadi sangat penting untuk menciptakan perubahan lingkungan hidup yang lebih baik. (dony)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *