Pembinaan Lingkungan Hidup 100 Guru & Kepala Sekolah Se Sidoarjo

Sidoarjo- Hampir seluruh sekolah memiliki program atau kegiatan lingkungan hidup, disadari atau tidak. Ungkapan tersebut disampaikan oleh aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni kepada sekitar 100 orang guru dan kepala sekolah se-Sidoarjo, Kamis (28/10) di gedung Delta Praja pemerintah kabupaten Sidoarjo. Program tersebut misalnya penyediaan tempat sampah, kerja bakti dan, penanaman pohon pelindung atau tanaman dalam pot.

Hanya, menurut Zamroni, program lingkungan hidup tersebut efektif pelaksanaannya atau tidak. Program lingkungan hidup yang ada telah melibatkan seluruh warga sekolah atau hanya melibatkan sedikit warga sekolah saja. “Atau, program lingkungan hidup itu dilaksanakan secara berkelanjutan atau hanya sporadis menjelang lomba saja atau hanya dilakukan beberapa bulan saja dalam setahun,” ungkap aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni. Yang terpenting, menurut Zamroni, meningkatkan kepedulian lingkungan hidup saat ini dengan banyaknya program yang dilakukan. “Bisa melalui alat berupa program Adiwiyata atau program-program lainnya,” tambah Zamroni.

Beberapa guru/kepala sekolah yang hadir lantas diberi kesempatan Zamroni untuk berbagi informasi tentang program lingkungan hidup di sekolahnya. Kepala SD Hang Tuah 10 Juanda Marsoedi mengawali sesi ini dengan menjelaskan bahwa program pengolahan sampah organik menjadi kompos telah dilaksanakan di sekolahnya. “Sudah sekitar 1 tahun pengomposan dilaksanakan di sekolah kami yang luasnya lebih dari 1 hektar dengan siswa lebih 1000 orang. Banyak pepohonan pelindung besar yang dipelihara di sekolah. Alhasil banyak sampah dedaunan dan sisa makanan yang dihasilkan setiap harinya,” terang Marsoedi yang disambut tepuk tangan guru/kepala sekolah lainnya.

Berbeda dengan SD Hang Tuah 10 Juanda yang memiliki lahan luas. SMP PGRI 1 Sidoarjo, yang memiliki lahan sempit juga melakukan program lingkungan hidup. Yaitu dengan memanfaatkan pot-potan untuk media tanaman yang ada di sekolah. Hasilnya, sekolah ini tidak nampak gersang dan bahkan pernah menjuarai lomba lingkungan sekolah sehat se Sidoarjo beberapa tahun lalu. Tanaman dalam pot yang ada di sekolah ini dirawat oleh para siswa.

Cara pengolahan sampah organik menjadi kompos seperti yang diwariskan nenek moyang atau masyarakat di pedesaan bahkan dilakukan oleh SDN Gede Sedati 2 Sidoarjo. Cara pengomposan yang dimaksud adalah dengan mengubur sampah organik di dalam lubang tanah. “Sebelum pengomposan ini, pemilahan sampah organik dan sapah non organik kami terapkan di sekolah,” ungkap Sumiati, kepala SDN Gede Sedati 2 Sidoarjo. Sedangkan sebagian sampah organik didaur ulang. (roni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.