Mini Konferensi Anak Tentang Keanekaragaman Hayati Se Jambangan Digelar Di SDN Karah III

Surabaya- 150 siswa sekolah dasar se kecamatan Jambangan mengikuti Mini Children’s Conference on Biodiversity atau Mini Konferensi Anak-Anak tentang Keanekaragaman Hayati, Senin (29/11) di SDN Karah III, Jl. Ketintang Selatan III. Program ini diselenggarakan Tunas Hijau bersama UPTD BPS Kecamatan Jambangan. Sekolah-sekolah yang terlibat adalah MIS Darussalam, SDN Kebonsari III, MIN Jambangan, SDN Karah III, SD Darul Ilmi, SDN Jambangan I, SDN Pagesangan, MI Hasanuddin, SDN Kebonsari I, SDN Kebonsari II, SDN Jambangan II, SD Darul Ulum, SDN Karah I, dan SDN Kebonsari II.

Pada sambutan pembukaan, aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni menjelaskan bahwa tujuan program ini adalah mengajak anak-anak usia sekolah dasar se Jambangan untuk belajar lingkungan hidup di luar ruangan. “Siapa yang pernah bermain di sungai?” tanya Zamroni. Beberapa siswa pun nampak mengacungkan tangannya. “Pada program ini kita akan belajar lingkungan hidup di selokan, sungai,  kebun dan luar ruangan lainnya. Kita akan mendekatkan diri kita dengan aneka fauna atau satwa yang selama ini hidup di sekitar kita. Agar mereka betah terus tinggal di sekitar kita,” kata Zamroni.

Setelah pembukaan, seluruh siswa lantas dibagi menjadi dua kelompok untuk kegiatan pengenalan. Pada kelompok pertama, mereka dikenalkan tentang biota atau makhluk hidup yang biasanya menjadi indikator baik dan buruknya kualitas lingkungan hidup khususnya saluran air. Dijelaskan oleh aktivis senior Tunas Hijau Bram Azzaino bahwa air menjadi syarat mutlak bagi semua makhluk hidup. “Makanya kita harus memastikan bahwa saluran air di sekitar kita kualitasnya baik. Diantaranya dengan mengamati ada atau tidaknya biota-biota ini,” ujar Bram Azzaino sambil menunjuk gambar aneka biota berukuran besar yang ditempelkan di papan.

Pada kelompok kedua, peserta dikenalkan tentang teknologi dan energi ramah lingkungan hidup. Dijelaskan oleh aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni bahwa penggunaan energi dan teknologi ramah lingkungan hidup harus dibudayakan. “Sebab, energi yang diantaranya memanfaatkan sinar matahari ini sama sekali tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca yang. Berbeda dengan penggunaan listrik umumnya yang menggunakan batu bara sebagai pembangkitnya, yang berarti setiap watt listrik yang dihasilkan juga akan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang menambah panas bumi ini,” ujar Zamroni. Pada kesempatan ini produk solar panel sumbangan PT. Indonesia Technology & Energy International. Produk-produk dengan energi solar panel yang diperagakan Zamroni adalah lampu badai, lampu lilin dan lampu nyamuk. Ditambahkan Zamroni bahwa perilaku hemat listrik harus diterapkan. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.