Sampai Di RSAU Hardjolukito, Merasakan Mobil Ambulance Toyota Land Rover Terbaru

Jogjakarta- Memasuki Jogjakarta, rombongan berhenti  untuk makan malam. Di tengah makan, driver truk menanyakan alamat RSAU dr. Hardjolukito, dan kami baru sadar bahwa kami tidak memiliki alamat rumah sakit tersebut. Segera kami menghubungi dr. Prita Mulyono, yang juga orang tua aktivis Tunas Hijau di Malang, melalui nomor telepon seluler. Parahnya, dr. Prita Mulyono juga tidak memberikan alamat pasti, hanya ‘ancer-ancer’ jalannya saja. Oleh beliau kami dipandu untuk menghubungi dr. Krismono, kepala RSAUHardjolukito. Melalui dr. Krismono akhirnya kami mendapatkan alamat RSAU dr. Hardjolukito lengkap dengan arahan rute jalan yang akan dilewati.

Ketidaktahuan tentang alamat RSAU Hardjolukito juga kami informasikan pada Diofan Kurnia Jati. Satu-satunya tempat yang kami kenal adalah jembatan atau fly over Janti. Dio pun memberikan kesanggupan untuk menunggu kami sebelum fly over Janti. Sesampainya difly over Janti, Dio dan tiga temannya telah menunggu kami untuk memandu truk menuju RSAU Hardjolukito.

Tepat pukul 19.00 Wib, Minggu (12/12), truk bantuan yang membawa bantuan kemanusiaan untuk korban bencana alam letusan Gunung Merapi dari Tunas Hijau sampai di halaman RSAU dr. Hardjolukito. Aulia Madjid yang akrab dipanggil Suud melapor ke petugas piket. Beberapa prajurit TNI AU dengan ramah mempersilahkan kami untuk beristirahat sejenak. Oleh salah satu petugas RSAU, kami berempat disarankan untuk menginap di mess prajurit sambil menunggu rombongan dari Malang yang baru berangkat menuju Jogjakarta.

Tawaran yang sulit ditolak mengingat rasa pegal selama perjalanan, namun kami katakan pada petugas jaga bahwa kami tidak menginap di mess prajurit karena kami masih harus berkordinasi dengan rekan-rekan lain yang ada di Karanggayam untuk merencanakan kegiatan kami esok pagi.

Kami berempat diantar oleh Yudhi, salah satu staf RSAU dr. Hardjolukito menuju lokasi kos Diofan Kurnia Jati di Karanggayam dengan menggunakan mobil ambulance. Meski mobil Ambulance, kami berempat patut bangga, ternyata mobil ambulance yang mengantar berkategori mobil mewah bermerek Toyota Land Rover keluaran terbaru. Norita ‘Nonoy’ juga sempat berkata bahwa nggak perlu nunggu kaya untuk bisa naik Toyota Land Rover.“Cukup sakit dan menelepon unit rawat darurat RSAU Dr. Hadjolukito, dijamin akan bisamerasakan mobil mewah ini,” ujar Norita.

Tak lebih lima belas menit berkendara ambulance mewah, kami pun sampai di kost Diofan Kurnia Jati. Beberapa menit kemudian beberapa mahasiswa teman Dio datang menyusul bergabung. Norita menjelaskan dengan rinci kepada mereka tentang bantuan kemanusiaan yang kami bawa dari Surabaya mengenai jenis barang dan jumlahnya. Setelah itu berganti Dio menjelaskan tentang titik pendistribusian bantuan yang kami bawa. Sesuai survei Dio dan teman-temannya, bantuan kemanusiaan akan didistribusikan di dua titik lokasi, yaitu di dusun Watuadeg, Wukirsari dan di posko pengungsian Kepuh Harjo.

Di dusun Watuadeg bantuan akan difokuskan di SDN Watuadeg dengan memberikan bantuan berupa buku tulis dan peralatan sekolah lainnya. Kami juga merencanakan untuk menggelar kegiatan lingkungan hidup sederhana dalam bentuk permainan ular tangga lingkungan hidup raksasa di sekolah tersebut. Untuk bantuan lainnya yang berbentuk kebutuhan logistik akan diserahkan di posko pengungsian Kepuh Harjo.

Sementara itu, melalui telepon seluler dan sms dr. Prita Mulyono menjelaskan bahwa rombongan dari Malang membawa bantuan kemanusiaan yang diangkut menggunakan truk militer. Diperkirakan bahwa bantuan kemanusiaan dari Malang akan sampai di Jogjakarta pada dini hari. Untuk keberangkatan menuju lokasi, truk dari Surabaya akan berkonvoi beriringan dengan truk dari Malang dengan pengawalan personel dari RSAU Hardjolukito,Senin (13/12) pukul 08.00 Wib.

Tepat pukul 07.00 kami berlima dengan ditambah Dony Kristiawan yang datang menyusul pada dini hari telah bersiap menuju RSAU dr. Hardjolukito. Selain kami, turut serta pula Diofan Kurnia Jati bersama empat temannya dari D3 kehutanan UGM. Takut terlambat sampai di RSAU kami memilih menyewa taksi. Padahal sejak malam hari kami sudah berencana ingin merasakan naik bis Trans Jogjakarta. Benar saja, sesampainya di RSAU dr.Hardjolukito kami hampir saja terlambat tapi tidak benar-benar terlambat. Jadwal keberangkatan molor hingga satu jam.

Pukul 09.00 Wib, Senin (13/12), iring-iringan bantuan kemanusiaan Trash To Cash ForMerapi Tunas Hijau dan bantuan dari Malang mulai bergerak meninggalkan halaman RSAUdr. Hardjolukito dengan diawali raungan sirene mobil ambulance yang mengantar kami semalam. (sugeng/ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.