SMP 4, SMP 21, SMP 27, SMP 29 Dan Kelompok Pengajian Griya Candramas Sedati Sumbang Trash To Cash For Merapi

Surabaya- Posko Trash To Cash For Merapi yang digelar oleh Tunas Hijau sejatinya sudah ditutup sejak Minggu, 28 Nopember 2010. Namun, hingga hari ini, Sabtu (4/12), bantuan dari beberapa sekolah dan pihak lainnya terus berdatangan di Markas Tunas Hijau. Bantuan tersebut berasal dari SMP Negeri 4 Surabaya, SMP Negeri 29, SMP Negeri 27 Surabaya, SMP Negeri 21 Surabaya, pendengar Radio Suara Surabaya dan PKK serta kelompok pegajian Perumahan Griya Candramas, Sedati-Sidoarjo.

Jenis bantuan yang diterima oleh Tunas Hijau yakni koran, kardus, botol plastik, gelas minum plastik, pakaian dalam, pakaian dewasa, pakaian anak-anak, buku paket sekolah, pembalut wanita, pampers balita, peralatan sholat, selimut, peralatan mandi, beras, gula pasir, minyak goreng, air mineral dan mie instan. Rencananya barang-barang tersebut bakal disumbang-salurkan langsung ke korban bencana Merapi pada Kamis, 9 Desember 2010.

Penyaluran bantuan untuk korban bencana Merapi pada Kamis, 9 Desember 2010 tersebut merupakan tahap kedua. Sebelum itu, Tim Trash To Cash For Merapi Tunas Hijau dan SDN Kandangan I Surabaya pada 13-14 November 2010 telah menyalurkan bantuan kebutuhan sehari-hari untuk korban bencana Merapi di Desa Muntilan, Magelang. Bantuan yang disumbangkan pada tahap pertama tersebut senilai Rp. 25.000.000,- (Dua Puluh Lima Juta Rupiah) yang berasal dari penjualan sampah yang bernilai jual dan juga donasi dari beberapa donatur di Surabaya dan sekitarnya.

Aksi Trash To Cash For Merapi yang digalang Tunas Hijau adalah upaya menggalang bantuan untuk korban bencana Merapi dalam bentuk sumbangan sampah non organik yang memiliki nilai jual. Namun, bukan menjual sampah yang menjadi tujuan utama pada aksi ini, melainkan memasyarakatkan pesan bahwa dengan mengumpulkan sampah  bisa berbuat baik bukan hanya terhadap sesama dan juga kepada lingkungan hidup.

Trash To Cash For Merapi adalah program peduli lingkungan hidup untuk peduli kemanusiaan (environment for humanity) ini. Alasannya, semua sampah non organik yang bernilai jual itu dipastikan didaur ulang secara industri. Dengan didaur ulang secara industri, maka berarti sampah tersebut akan dijadikan barang sejenis yang baru. Artinya, telah dilakukan penghematan listrik, penghematan bahan bakar minyak, dan penghematan air dari pada membuat barang sejenis bukan dari daur ulang. (black/ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.