Bahas Energi, Air, Pohon dan Sampah, Peserta Workshop Sekolah Berbudaya LH Membuat Rencana Kegiatan Pro Lingkungan

Surabaya- Ratusan siswa SMP Negeri se Surabaya sudah memadati kantin apung lesehan 3R SMP Negeri 26 Surabaya sejak pukul 08.00, Rabu (26/1). Kedatangan siswa perwakilan SMP Negeri se Surabaya di satu-satunya kantin yang diklaim sebagai satu-satunya kantin apung di Surabaya tersebut adalah untuk mengikuti workshop sekolah peduli dan berbudaya lingkungan hidup. Workshop tersebut digelar oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya, Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya dan SMP Negeri 26 Surabaya dalam rangka kunjungan kerja Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia di Surabaya.

Selama 8 jam, ratusan siswa tersebut membahas beberapa permasalahan lingkungan hidup yakni pemanasan global yang menjadi isu nomer satu abad ini dan permasalahan lingkungan hidup sekolah. Peserta juga belajar tentang permasalahan lingkungan yang berkaitan dengan energi, sampah, pohon dan juga air. Workshop tersebut diikuti 240 siswa perwakilan dari 48 (empat puluh delapan) SMP Negeri yang ada di Surabaya.

Diawali dengan pembahasan tentang pemanasan global, Tunas Hijau sebagai pemandu workshop menyampaikan bahwa pemanasan global merupakan muara dari permasalahan-permasalahan lingkungan yang terjadi di muka bumi. “Polusi udara, kebakaran hutan, pencemaran air dan gunungan sampah, merupakan masalah yang menjadi akar munculnya pemanasan global,” ujar Adetya Firmansyah aktivis Tunas Hijau.

Workshop tersebut bukan hanya berhenti pada pembahasan pemanasan global saja, melainkan seluruh peserta diajak untuk mencari upaya pro aktif yang dapat dilakukan di sekolah dalam upaya menghambat lajunya pemanasan global. Pencarian upaya tersebut dilakukan Tunas Hijau dengan terlebih dahulu membagi seluruh peserta workshop menjadi 4 kelompok besar. Setiap kelompok besar mewakili satu tema yakni tema energi listrik, tema air, tema sampah dan tema pohon.

Dipandu oleh aktivis Tunas Hijau, 4 kelompok tersebut yang semula berada di kantin apung lesehan 3R SMP Negeri 26 Surabaya langsung menyebar mencari lokasi-lokasi yang tepat untuk membahas permasalahan tersebut. Seperti kelompok air yang menjadi kolam ikan SMP Negeri 26 Surabaya sebagai lokasi pembahasan tentang permasalahan air. Kelompok sampah lebih memilih lokasi berkegiatan di sekitar komposter milik sekolah. Meskipun sedikit bau, namun setidaknya lokasi itu mampu memberikan nuansa sampah pada kelompok tersebut.

Sedangkan dua kelompok lainnya masing-masing memilih lokasi sekitar taman sekolah untuk kelompok pohon dan kelas multimedia menjadi lokasi pembahasan untuk permasalahan energi listrik. Melalui kelompok-kelompok tersebut, muncullah beberapa ide aktivitas lingkungan hidup yang digelar di sekolah dan terkait dengan masing-masing tema. Pada akhir workshop tersebut juga dibahas upaya yang akan dilakukan oleh perwakilan masing-masing sekolah untuk mengatasi permalasahan lingkungan hidup di sekolah masing-masing. (black)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.