Gedung Putih Dengan Pemandangan Tenda “Demonstran” Perdamaian Yang Telah Berdiri Selama 30 Tahun

Washington, DC- Gedung Putih atau White House adalah bangunan publik tertua di District of Columbia, 1600 Pennsylvania adalah alamat yang sangat terkenal di Amerika Serikat.  Di bangunan ini, kecuali Geroge Washington, semua Presiden Amerika Serikat menjalankan roda pemerintahan negara. Sejak 1792, Gedung Putih telah menjadi simbol Presiden Amerika Serikat yang banyak dikenal di seluruh dunia. Sementara gedung Capitol lebih mewakili kebebasan dan cita-cita bangsa, maka Gedung Putih menyimbolkan penguasa dan negarawan sebagai kepala pemerintahan negara Amerika Serikat.

Gedung Putih selalu dikunjungi wisatawan domestik (dari negara bagian lain di Amerika Serikat) dan wisatawan internasional. Seperti saat aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni berkunjung, Minggu (13/2) pagi, ada banyak wisatawan dari Jepang, Korea, Tiongkok dan Eropa. Banyak juga wisatawan dari negara bagian lain seperti Arizona dan California. Hal utama yang dilakukan pengunjung itu sudah pasti satu, yaitu mengambil foto dokumentasi Gedung Putih beserta diri mereka dan rombongan.

Untuk menuju Gedung Putih sangat mudah. Dari JW Marriot Pensylvania, tempat aktivis senior Tunas Hijau menginap, cukup dengan berjalan kaki kurang dari 10 menit. Atau hanya berjarak 2 blok. Dari kejauhan, simbol Gedung Putih ini juga nampak dengan jelas. Tidak hanya karena semua gedungnya yang berwarna putih, tapi juga ada penanda bendera Amerika Serikat yang berkibar paling tinggi di antara bendera yang berkibar hampir di seluruh gedung lainnya. Untuk memasuki Gedung Putih ini pengunjung juga tidak perlu membayar tiket masuk.

Tepat di depan Gedung Putih, ada pemandangan yang nampak kontras dengan keindahan taman yang ada. Pemandangan yang dimaksud adalah sebuah tenda dome untuk 1 – 2 orang. Di kedua sisi tenda itu terdapat papan berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter. “Live by the Bomb, Die by the Bomb”, “White House 24 Hours a Day. Anti Nuclear Peace Vigil Since 1981 Maintained by W Thomas” adalah beberapa pesan yang nampak pada papan yang berdiri. Pagi itu, karena suhu sangat dingin (mencapai minus 1 derajat Celcius), tenda ditutup dengan plastik.

Di depan tenda itu nampak seorang pria paruh baya dengan pakaian dinginnya sedang duduk di depan tenda sambil mengoperasikan komputer jinjing yang tersambung dengan internet mobile. Start Loving adalah nama yang dia kenalkan kepada Tunas Hijau saat ditanya identitas dirinya. Dia mengaku memulai pekerjaannya itu sejak tahun 1981. Dia tidak tidur di dalam tenda yang terus berdiri sejak aksi pertama dia lakukan sekitar 30 tahun lalu itu. Dia tidur di apartemen/rumah yang tidak jauh dari lokasi itu.

Ketika ditanya apakah untuk menggelar aksinya selama bertahun-tahun itu dia mendapatkan ijin dari pemerintah atau Gedung Putih, dia dengan lugas balik bertanya, “Apakah Anda perlu mendapatkan ijin untuk memasuki area ini?” Setelah dijawab oleh Tunas Hijau dengan “Tidak”, dia pun menimpali jawaban itu dengan “Begitu pula saya tidak perlu mendapatkan ijin untuk melakukan pekerjaan ini.” Dia mengatakan bahwa dia melaksanakan pekerjaan ini berdua dengan seorang temannya. “Kami ada dua shift,” kata Start Loving.

Tentang aksi atau pekerjaannya itu, Start Loving tidak menganggap bahwa aksi itu ditujukan kepadapenghuni Gedung Putih atau pejabat pemerintahan Amerika Serikat. Kepada Tunas Hijau, Start Loving menjelaskan bahwa penghuni Gedung Putih (Presiden Amerika Serikat) bukanlah pemerintahan yang sebenarnya. Pemerintahan sebenarnya adalah masyarakat dan orang-orang yang datang mengunjungi Gedung Putih dari luar pagar istana. “Seperti halnya Husni Mubarak, presiden Mesir yang belum lama mengundurkan diri. Husni bukanlah pemerintahan yang sebenarnya. Pemerintahan yang sebenarnya adalah rakyat yang menggulingkannya,” jelas Start Loving. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.