Non Formal Meeting Di Rumah Direktur IVLP

Washington, D.C.- Tujuh belas peserta International Visitor Leadership Program (IVLP) Gold Star U.S. Department of State “Alumni Connecting the World” dari 17 negara telah datang di Washington, DC, Minggu pagi (13/2). Ketujuh belas negara itu adalah Afghanistan, Brazil, Burma, Kamerun, Republik Ceko, Perancis, India, Kosovo, Maroko, Nigeria, Pakistan, China, Rusia, Siria, Uruguai, Uzbekistan dan Indonesia. Hanya peserta dari Kamboja yang sampai pagi ini belum hadir karena penundaan jadwal pesawat terbang.

Lobi Hotel JW Marriot Pennsylvania Washington, DC menjadi tempat pertemuan pertama bagi ketujuh belas peserta IVLP Gold Star itu. Masing-masing peserta saling bertukar kartu nama dan mengenalkan diri masing-masing. Ternyata saya tergolong peserta termuda. Mereka rata-rata berumur lebih dari 40 tahun sampai 60 tahun. Yang pasti, masing-masing dari peserta memiliki profesionalisme berbeda-beda dan sangat berpengalaman di bidangnya masing-masing.

Bus limosin dengan sekitar 30 kursi menjadi moda transportasi yang digunakan peserta IVLP Gold Star untuk mengikuti pertemuan informal dengan Direktur IVLP Alma R. Candelaria di rumahnya. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di rumah Candelaria, 2005 31st Street, South East 1ashington, DC.  Sesampai di rumah Candelaria, aneka masakan khas Amerika Serikat nampak sudah siap di meja makan khas pemukiman di Amerika Serikat.

Pada kesempatan itu Candelaria menyatakan kebanggaannya bisa berjumpa dengan para alumni International Visitor Leadership Program dan International Visitor terbaik dari seluruh dunia itu. Candelaria mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yang merupakan Top 18 alumni dari seluruh dunia yang diselenggarakan oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. “Sangat susah dan butuh waktu yang lama untuk menentukan 18 alumni terbaik dari ribuan alumni program serupa dari seluruh negara di dunia,” kata Alma R. Candelaria yang disambut tepuk tangan seluruh peserta dan pemandu program yang hadir di rumahnya.

Masing-masing orang yang hadir lantas membentuk formasi melingkar untuk perkenalan. Ada pejuang HIV/AIDS yang juga pejuang Gay dan Lesbian dari China. Ada profesional dalam bidang media massa dari Afghanistan. Ada seorang dokter perempuan dari Siria yang getol memperjuangkan pembelaan untuk perempuan penderita kanker payudara. Ada pengacara atau praktisi hukum dari Brazil yang juga beberapa kali melakukan perjuangan hukum atas isu-isu lingkungan hidup di Brazil.

Dari Nigeria adalah penggerak pemberdayaan perempuan dan ekonomi. Ada dokter dari Kosovo yang terus memperjuangkan pembelaan masyarakat tentang kanker. Penasehat Presiden Republik Ceko untuk urusan luar negeri adalah profesionalisme yang dimiliki oleh utusan Republik Ceko. Sedangkan dari Burma atau Myanmar adalah seorang pengajar bahasa Inggris di daerah-daerah terpencil. Ada juga penasehat Presiden Republik Ceko untuk urusan luar negeri. Sedangkan dari Indonesia, saya sendiri, adalah penggiat lingkungan hidup. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *