Tabulampot Dan Bawa Alat Makan Minum Sendiri Digagas Di SMP 8

Surabaya- Gedung baru yang dimiliki tidak lantas membuat bangga para siswa SMP Negeri 8. Sebagian dari mereka menyatakan lebih bangga lagi bila gedung baru tersebut diimbangi dengan kualitas lingkungan hidup yang baru pula. Pernyataan ini mereka sampaikan saat Tunas Hijau melakukan pembinaan lingkungan hidup di sekolah yang beralamat di Jl. Bunguran 15 – 17 Surabaya itu, Senin (7/2). Dengan menunjukkan tidak adanya (sangat minim) pepohonan diantara gedung baru itu, Tunas Hijau Tunas HIjau mengajak 100 siswa kelas 7 dan 8 ini untuk ikut andil dalam upaya memperbaiki lingkungan di sekolah mereka.

Kevin, aktivis Tunas Hijau lantas meminta peserta pembinaan untuk menuliskan fenomena lingkungan yang ada di sekolahnya. Fenomena yang dimaksud adalah permasalahan lingkungan hidup yang terjadi di sekolah, misalnya yang menyangkut sampah, pohon, air dan energi. “Untuk masalah lingkungan, jangan hanya diam saja saat melihat perilaku warga sekolah yang dapat merusak lingkungan. Misalnya lampu dan kipas angin yang dibiarkan terus menyala meskipun tidak diperlukan,” ujar aktivis Tunas Hijau Kevin Aulia.

Dalam pembinaan yang bertempat di aula sekolah ini, beberapa fenomena lingkungan berhasil diutarakan peserta pembinaan. Diantaranya adalah kurangnya jumlah pohon pelindung dan tanamanpot dan masih maraknya penggunaan pembungkus makanan minuman dari plastik. Lebih dari 5 permasalahan yang diungkapkan siswa pada pembinaan ini. Dari permasalahan lingkungan ini mereka lantas diminta merumuskan solusinya menjadi program kegiatan siswa selama sebulan berikutnya. Diharapkan solusi itu memfokuskan pada pembiasaan yang melibatkan segenap warga sekolah.

”Setelah tahu permasalahan lingkungan yang ada, dibutuhkan tindakan nyata untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” tutur Kevin, aktivis Tunas Hijau yang sering dipanggil Su’ud ini. Ada sekitar 6 rencana aksi yang akan mereka lakukan. Diantaranya mewujudkan kantin sehat dan bebas plastik dengan membawa bekal atau membawa tempat makan dan minum sendiri, Tabulampot (TanamanBunga Dalam Pot) yang diletakkan di tiap-tiap kelas. Minimal 6 tanaman dalam pot dan penambahan jumlah pohon di belakang gerbang dan pos satpam.

Pada akhir pembinaan, peserta dihadapkan pada sebuah kontrak kerja yang harus mereka isi denganrencana program yang akan dijalankan di SMP Negeri 8 Surabaya. Layaknya sebuah perjanjian,kontrak kerja tersebut memiliki butir-butir poin yang harus mereka sepakati untuk dijalankan. Salah satunya dalah setiap kali melaksanakan program harus mengirimkan foto kegiatan dan artikel tentang laporan kegiatannya pada Tunas Hijau.

”Jadi sama seperti seorang wartawan,kalian juga harus menyerahkan foto kegiatan dan artikelnya sebagai bukti kalau kalian sudah menjalankan programnya. Untuk membuat artikel, itu kuncinya adalah prinsip 5W + 1H, yaitu WhatWhenWhoWhere dan Why plus How,” jelas Kevin saat menjelaskan prosedur kontrak kerja kepada peserta pembinaan. Program ini adalah bagian dari program Sekolahku Peduli Lingkungan yang merupakan tindak lanjut workshop lingkungan hidup bersama Duta Besar Amerika Serikat Scot Marciel dan Walikota Surabaya Tri Rismaharini.(suud/black/ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.