Pengalaman Sosialisasi LH Kepada Warga Kampung

Oleh: Puteri Lingkungan Hidup Malang Raya 2009 Cherissa Wahyu Pramais

Saya patut bersyukur punya orang tua yang sangat peduli dan mendorong saya menjadi individu yang bertanggung jawab. Sikap orang tua ini, terutama, saya rasakan setelah bersama Tunas Hijau terpilih mewakili anak-anak Indonesia mengikuti Konferensi Anak-Anak Internasional Lingkungan Hidup di kota Brasilia, negara Brazil, Amerika Latin, Juni 2010. Pada konferensi ini, Indonesia menjadi satu diantara sekitar 60 negara yang hadir sebagai peserta. Konferensi ini diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Brazil bersama United Nations Environment Program kantor regional Amerika Latin.

Sepulang dari konferensi internasional itu, setelah saya banyak mendapat pengetahuan dan pengalaman baru tentang upaya menyelamatkan lingkungan hidup, mama saya meminta menularkannya kepada warga pemukiman di sekitar rumah saya. Kali pertama sosialisasi itu dilaksanakan pada pertemuan ibu-ibu PKK. Pada pertemuan itu, saya berbagi cara memanfaatkan sampah organik khususnya dedaunan dan ranting pohon untuk dimanfaatkan menjadi briket atau sejenis arang.

Setelah penyuluhan tentang cara pemanfaatan briket kepada warga sekitar rumah itu, saya juga mengajari ibu-ibu dan anak-anak mereka cara mengolah sampah kertas menjadi kertas baru atau daur ulang. Tidak sedikit dari warga sekitar rumah yang kemudian menerapkannya di rumah masing-masing. Tidak sedikit pula yang terus bertanya kepada saya di rumah untuk hal-hal yang kurang mereka pahami.

Namun, ternyata sosialisasi yang telah saya lakukan itu ternyata tidak lama dilakukan warga sekitar rumah. Ibaratnya, sosialisasi yang saya berikan itu hanya menjadi pengetahuan dan ketrampilan baru buat mereka, yang tidak mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menciptakan bumi yang lebih baik. Melalui pengalaman ini, saya jadi mengerti bahwa seyogyanya sosialisasi yang saya berikan kepada warga kampung seyogyanya tentang masalah sehari-hari di kampung. Yaitu cara mengolah sampah organik manjadi kompos. Sedangkan daur ulang kertas bekas lebih cocok diberikan di sekolah-sekolah. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *