Pangeran & Puteri Lingkungan Hidup Tanam Pohon Di Taman Flora Bratang

Nelson Edo, pangeran lingkungan hidup 2010, mengenakan selempang, sedang menanam pohon duren

Surabaya- Koleksi jenis pohon di Taman Flora Bratang seluas sekitar 4 hektar itu dipastikan bertambah. Penambahan itu direalisasikan Tunas Hijau, Minggu (19/2), bersama pangeran dan puteri lingkungan hidup 2010. Ialah Pangeran Lingkungan Hidup 2010 Nelson Edo yang bertugas mewakili paguyuban pangeran dan puteri lingkungan hidup 2010 melakukan penanaman pohon di taman yang selalu dipenuhi ribuan pengunjung saat hari libur itu. 

Sebelumnya, di Taman Flora Bratang ini sudah ada lebih dari 100 jenis pohon. Jenis pohon yang ditanam kali ini adalah 1 gaharu (AQUILARIA mallacensis) dan 2 duren (DURIO sibenthinus) yang sudah berukuran besar. “Pohon yang ditanam adalah sumbangan PT. Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk untuk gerakan penanaman 1 milyar pohon yang bermitra dengan Tunas Hijau,” ujar aktivis senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni.

Pohon gaharu yang ditanam adalah jenis pohon aromatik termahal di dunia

Selain untuk menambah koleksi jenis pohon di taman itu, kegiatan ini juga mengawali rencana pelaksanaan Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2012 yang akan segera diselenggarakan Tunas Hijau. “Insya Allah Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2012 akan diselenggarakan mulai Maret bulan depan,” ujar aktivis Tunas Hijau Satuman.

Tanam pohon ini juga menjadi kegiatan penutup program magang yang dilakukan 4 mahasiswa jurusan Sosiologi, fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang di Tunas Hijau. Mereka adalah Berlian C. Sudjiana, Bismi Minhatul, Rival Wisnu dan Atniko Madya. Mereka mulai magang di Tunas Hijau sejak awal Februari 2012.

Tanam pohon ini mengawali rencana pelaksanaan Penganugerahan Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup 2012

Sementara itu, pohon gaharu yang ditanam kali ini adalah jenis pohon langka. Gaharu adalah bahan aromatik termahal di dunia. Harga gaharu kualitas baik di tingkat konsumen di pasar internasional, sekitar US $ 5 sd. 15 per gram, (Rp 45.000,- sd. 135.000,-). Sedemikian tingginya nilai produk gaharu, hingga penjualannya menggunakan bobot gram. Bukan ons atau kg.

Gaharu adalah bahan parfum, kosmetik dan obat-obatan (farmasi). Parfum diperoleh dari hasil ekstraksi resin dan kayunya. Gaharu sudah dikenal sebagai komoditas penting, semenjak jaman Mesir Kuno. Mumi mesir, selain diberi rempah-rempah (kayumanis, cengkeh), juga diberi cendana dan gaharu.

Itulah sebabnya kayu gaharu juga disebut sebagai aloeswood (kayu aloe). Nama dagang lainnya adalah agarwood, heartwood, dan eaglewood. Di pasar internasional, gaharu murni diperdagangkan dalam bentuk kayu, serbuk dan minyak (parfum). Kayu gaharu bisa dijadikan bahan kerajinan bernilai sangat tinggi, atau untuk peralatan upacara keagamaan.

Serbuk gaharu digunakan untuk dupa/ratus, dan minyaknya merupakan parfum kelas atas. Serbuk gaharu sebagai dupa akan dibakar langsung dalam ritual keagamaan. Baik Hindu, Budha, Konghucu, Thao, Shinto, Islam dan Katolik. Kayu gaharu disebut sebagai kayu para dewa. Aroma gaharu karenanya dipercaya mampu menyucikan altar dan peralatan peribadatan lainnya.

Dupa gaharu juga dimanfaatkan untuk mengharumkan ruangan, rambut dan pakaian para bangsawan. Aroma gaharu akan digunakan sebagai aromaterapi di spa-spa kelas atas. Selain untuk ritual keagamaan, parfum dan kosmetik, produk gaharu juga sering dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik dari pemanfaatannya, terlebih lagi proses pencariannya dari alam.

Pengambilan gaharu dari hutan, memang selalu dilakukan secara tradisional, dengan berbagai ritual dan kebiasaan setempat. Pencarian gaharu di lokasi sulit, harus menggunakan pesawat terbang atau helikopter. Beberapa kali pesawat terbang dan heli pencari gaharu, hilang di hutan belantara di Kalimantan, hingga memperkuat kesan mistis produk gaharu. (ron)