Buat Lubang Resapan Di SDN Rungkut Menanggal I, Diperlukan Palu, Betel Dan Linggis

Siswa SDN Rungkut Menanggal I nampak serius membuat lubang resapan di halaman sekolah

Surabaya- Seringkali untuk membuat satu lubang resapan tidak cukup hanya dengan mengandalkan alat bor yang ada. Beberapa alat pendukung seperti palu, linggis, betel dan cetok sangatlah dibutuhkan untuk menembus lapisan tanah keras, berbatu, bahkan tanah yang tertutup lapisan beton. Seperti yang dilakukan Renaldi Adit, siswa kelas VB SDN Rungkut Menanggal I.  

Renaldi bersama teman-temannya harus berusaha keras untuk menembus lantai beton yang menutupi halaman sekolahnya. Renaldi dan teman-temannya bergantian memecah lantai beton dengan menggunakan palu dan betel. “Atos, Pak,” begitu jawaban singkat Renaldi ketika ditanya tentang kondisi tanahnya. Dibantu oleh aktivis Tunas Hijau, Renaldi dan teman-temannya membutuhkan waktu 15 menit untuk menembus lantai beton setebal 20 cm ini.

Aktifitas anak-anak tersebut terlihat pada saat pelaksanaan monitoring pelaksanaan Gerakan Sejuta Lubang Resapan Untuk Surabaya “seri Sekolah Dasar” di SDN Rungkut Menanggal I, Rabu (23/5). Gerakan peduli lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau bekerjasama dengan Perusahaan Gas Negara dan Pemerintah Kota Surabaya ini bertujuan untuk menyosialisasikan pencegahan banjir dan pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Saifullah, aktivis Tunas Hijau, mengungkapkan bahwa selain untuk sekolah dasar, program ini juga dilaksanakan untuk sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas/kejuruan (SMA/SMK). “Monitoring ini adalah tindak lanjut dari pembinaan sebelumnya,” ungkap Saifullah.

Selain praktek pembuatan lubang resapan, pelaksanaan monitoring ini juga diisi dengan penjelasan singkat tentang manfaat lubang resapan. Penjelasan ini disampaikan oleh Bambang Soeryadi, aktivis Tunas Hijau yang melakukan monitoring di SDN Rungkut Menanggal I. Di hadapan anak-anak, Bambang menjelaskan bahwa lubang resapan dapat mengurangi genangan air hujan dan dapat digunakan sebagai media pengomposan secara alami. “Semakin banyak lubang resapan yang kita buat, berarti semakin banyak cadangan kompos yang kita miliki,” jelas Bambang.

Widya Lusia, kepala SDN Rungkut Menanggal I, mengungkapkan bahwa setiap musin hujan banjir kerap terjadi di SDN Rungkut Menanggal I. “Kalau hujannya deras, air bisa mencapai ketinggian 30 cm hingga  masuk ke dalam kelas,” ungkap Widya. Widya Juga mengungkapkan bahwa banjir sebabkan oleh lokasi sekolah yang terletak di tengah komplek perumahan, dimana selokan perumahan yang relatif sempit dan badan jalan yang tertutup paving block. Kondisi ini menyebabkan air hujan langsung masuk ke dalam selokan tanpa meresap ke dalam tanah. Widya juga menyatakan bahwa akan membuat lubang resapan lebih banyak lagi, karena sangat bermanfaat bagi sekolah. (njeng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.