Siswa SD Kreatif An Nur Diajak Mengenali Pencemaran Air

Surabaya- Dengan berhati-hati dan perlahan, tangan Moh. Arif Rifa’i menuang segelas air yang telah dicampurkan dengan satu sendok kopi bubuk ke dalam gelas yang lainnya. Bersama dengan teman satu kelompoknya, Arif mendapatkan tugas untuk melakukan filterisasi agar air yang tercampur bubuk kopi tersebut dapat menjadi jernih. Sempat terjadi kebingungan dalam satu kelompok ini untuk menentukan alat yang akan digunakan sebagai penyaring, sebab hanya disediakan dua gelas plastik. 

Beberapa siswa SD Kreatif An Nur Surabaya mencoba melakukan penjernihan air yang telah tercemar

Beberapa benda digunakan sebagai penyaring, seperti kertas koran, tissue, dan kapas. Namun, hasil penyaringan tidak menunjukan hasil yang lebih jernih. Malahan, segelas air yang disediakan berkurang setengahnya. Kebingungan ini tidak hanya terjadi di kelompok Arif, empat kelompok yang lain juga mengalami kebingungan dalam permainan ini. Hingga batas waktu permainan habis, tidak satu kelompok pun yang mampu menjernihkan air seperti kondisi semula.

Aktifitas permainan Coba Pisahkan yang dilakukan Moh. Arif Rifa’i terlihat pada saat pelaksanaan pembelajaran lingkungan hidup yang dilaksanakan Tunas Hijau di SD Kreatif An Nur, Sabtu (26/5). Kegiatan yang diikuti oleh 109 siswa kelas I hingga kelas V ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang pencemaran air.

Saifullah, aktifis Tunas Hijau, yang memandu kegiatan ini menjelaskan bahwa melalui permainan ini anak-anak diajak untuk memahami dampak pencemaran air. “Selain bermain, anak-anak juga kami ajak untuk mengenali tindakan-tindakan yang dapat dilakukan secara individu untuk menghindari pencemaran air,” ungkap Saifullah.

Tidak hanya dengan simulasi permainan, siswa juga diajak melakukan pengamatan tentang kualitas air saluran sekitar. Pengamatan ini dilakukan dengan membandingkan kandungan oksigen terlarut, tingkat keasaman dan kekeruhan dari dua sample air yang berbeda. Putri Rahma, siswa kelas V, menjelaskan bahwa dengan alat uji ini dirinya menjadi tahu berapa besar kandungan Oksigen terlarut yang berasal dari air selokan dan air yang kita minum sehari-hari.

“Saya baru tahu kalau kegiatan sehari di rumah seperti mandi, mencuci baju, dan tumpahan kotoran lainnya dapat menyebabkan air tercemar,” ungkapnya. Ditanyakan tentang penyebab pencemaran, Putri menjawab bahwa lebih baik mengenali penyebab pencemaran dan melakukan tindakan yang tidak mencemari air, karena air yang sudah tercemar akan sulit untuk dikembalikan ke kondisi semula.

Selain pengenalan pencemaran air dan uji kualitas air, kegiatan juga diisi dengan monitoring pengomposan sampah organik dan monitoring pertanian perkotaan (urban farming). Dua silinder pengomposan yang telah diisi sampah organik tujuh hari yang lalu ditumpahkan isinya dan dilakukan pembalikan serta penyiraman untuk menjaga kelembaban bahan kompos. Sementara itu, siswa juga melakukan penyiraman dan pengamatan pertumbuhan tanaman sawi dan terong yang telah ditanam seminggu sebelumnya. (geng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.