Sumur Resapan SDN Dukuh Kupang VI Untuk Antisipasi Banjir

Surabaya- Berkurangnya lahan resapan air dan penggunaan air tanah yang sangat berlebihan menyebabkan turunnya permukaan air tanah. Hal ini berakibat pada semakin sulitnya untuk mendapatkan air yang berkualitas. Kondisi ini diperparah dengan semakin tergusurnya keberadaan pepohonan oleh bangunan-bangunan sehingga daya serap tanah terhadap air semakin berkurang. 

Siswa SDN Dukuh Kupang 6 Surabaya bekerja sama membuang lubang resapan di sekolah

Secara alami, daya serap tanah terhadap air dipengaruhi oleh keberadaan lubang biopori di dalam tanah. Lubang biopori alami ini terbentuk oleh aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing atau pergerakan akar-akar dalam tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Bambang Soeryadi, aktivis Tunas Hijau, dalam pembinaan gerakan sejuta lubang resapan untuk Surabaya di SDN Dukuh Kupang VI, Senin (28/5). Selain penjelasan, pelaksanaan kegiatan juga diisi dengan pembuatan lubang resapan biopori baru yang dilakukan oleh 15 siswa anggota kader lingkungan sekolah. Arif, guru pengajar kelas V menjelaskan bahwa secara keseluruhan telah berhasil dibuat sepuluh lubang resapan biopori. “Lubang-lubang ini dibuat oleh anak-anak dengan panduan kakak-kakak dari Tunas Hijau selama dua kali pertemuan,” ungkap Arif.

Selain lubang resapan biopori, SDN Dukuh Kupang VI juga memiliki empat sumur resapan air yang tersebar di beberapa lokasi. Sumur resapan berbentuk persegi empat ini berfungsi sebagai penampung air hujan yang sering menggenang ketika hujan turun. Arif menjelaskan bahwa sebelum ada sumur resapan ini, halaman sekolah sering banjir.

Setelah dibuatkan empat sumur resapan air dengan ukuran 1 meter persegi ini banjir tidak terjadi lagi. “Nah, sekarang ini ditambah lagi dengan pembuatan lubang resapan biopori yang di dalamnya diisi dengan sampah organic. Mudah-mudahan juga bisa memanfaatkan kompos yang diproses secara alami untuk pupuk tanaman sekolah,” terang Arif bersemangat.

Arif  mengungkapkan bahwa sebenarnya banyak sekali hal-hal kecil tentang lingkungan yang belum kita ketahui. Untuk itu, dirinya berharap agar Tunas Hijau mau membantu untuk melakukan pembelajaran lingkungan hidup di sekolahnya. (bams)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.