Berkunjung ke Markas Tunas Hijau, Tim LH SMPN 28 Belajar Pengomposan Dan Urban Farming

Siswa SMPN 28 di antara tanaman kubis di markas Tunas Hijau

Surabaya- Kedatangan Nur Rohmawati, siswa kelas VIIIB SMPN 28, ke markas Tunas Hijau bukan tanpa alasan. Rokhma dan sepuluh anggota tim lingkungan hidup sekolahnya ingin belajar mengenal cara-cara sederhana praktek pengolahan sampah organik menjadi kompos. Mereka juga belajar memanfaatkan lahan sempit untuk pertanian organik. Kegiatan ini dilaksanakan Kamis (14/06). 

Pengomposan dan bercocok tanam organik yang dimaksud Rokhma dan timnya adalah pemanfaatan halaman depan dan samping markas Tunas Hijau yang digunakan sebagai media pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, persemaian bibit dan budidaya tanaman sayuran berumur pendek dan sedang. Fakhrul Lubis, aktivis Tunas Hijau, menjelaskan bahwa dengan media seperti ini siapapun bisa melakukan pengomposan dan pertanian perkotaan (urban farming).

Panen tanaman sawi oleh siswa-siswa tim lingkungan hidup SMPN 28 Surabaya

Seperti yang terlihat dalam pelaksanaan kunjungan, siswa diajak untuk mengetahui cara sederhana pengolahan sampah daun menjadi pupuk kompos di bagian pengomposan. Pengolahan sederhana ini dilakukan dengan menggunakan kotak kayu sebagai wadah sampah daun yang dikomposkan. Kepada peserta, aktivis Tunas Hijau Saifullah yang bertanggung jawab pada urban farming dan pengomposan menjelaskan bahwa untuk mencapai hasil maksimal perlu dilakukan pembalikan kompos setiap sepuluh hari.

Tidak berteori saja, siswa juga diajak untuk membongkar kotak pengomposan yang ada. Kebetulan salah satu kotak  pengomposan sudah berumur dua minggu dan waktunya membalik. Ada dua kotak kompos yang ada di tempat tersebut. Satu kotak berumur empat hari dan yang satu kotak lainnya berumur dua minggu. Dengan menggunakan cangkul, peserta bergantian membongkar  kotak pengomposan tersebut. “Wah, jerone isek panas, Rek (wah di bagian dalam masih panas),” teriak salah satu siswa ketika melakukan pembalikan.

Saifullah menjelaskan bahwa pengomposan dapat diartikan sebagai proses perombakan atau penguraian bahan organik secara biologis (dengan bantuan mikroflora/ mikrofauna) menjadi pupuk yang lebih sederhana menyerupai humus. Panas yang ditimbulkan selama proses pengomposan merupakan hasil energi reaksi proses penguraian. Kenaikan suhu selama proses pengomposan sangat menguntungkan bagi beberapa jenis mikroorganisme pengurai.

Tim lingkungan hidup SMPN 28 diajari mengolah sampah organik menjadi kompos dalam jumlah cukup banyak

Saifullah juga menjelaskan bahwa pembalikan tumpukan kompos akan sangat membantu proses aerasi. Pembalikan secara berkala dan teratur akan membantu pemerataan kondisi terhadap tumpukan kompos bagian bawah, tengah dan atas. Namun, sebaiknya pembalikan jangan sering dilakukan, terutama pada tahap awal. Hal ini untuk menjaga kondisi suhu tumpukan dan aktivitas mikroorganisme dalam tumpukan. “Suhu tumpukan yang dingin akan berakibat proses pengomposan menjadi lambat,” ungkap Saifullah.

Selain pengomposan, siswa-siswa SMPN 28 ini juga belajar cara penyemaian bibit sayur berumur pendek dan sedang. Mereka diajak melihat berbagai macam pembibitan sayuran jenis sawi yang berumur empat hari dan juga sayuran jenis terong yang berumur satu bulan. Di halaman depan, siswa diperlihatkan tanaman kubis dan sawi siap panen. Di lokasi ini peserta dijelaskan tentang komposisi tanah ideal untuk bercocok tanam dan cara perawatannya.

“Berapa umur kubis ini, Kak?” tanya ‘Miftakhul Rizka Devia Sandra, siswa kelas 8B, kepada Saifullah. Mendapat pertanyaan tersebut, Saifullah menjelaskan bahwa tanaman jenis kubis yang ada berumur tiga bulan. Melengkapi keterangannya, Saifullah menambahkan bahwa setiap tanaman yang ada di halaman markas Tunas Hijau  mempunyai tanggal penanamannya. “Jadi kita bisa menghitung kapan waktu panennya,” papar Saifullah.

Dalam kunjungan ini, tim lingkungan hidup SMPN 28 berkesempatan melakukan panen sawi morakot (sawi Jepang). Kebetulan tanaman sawi tersebut telah memasuki masa panen. Karuan saja tawaran ini membuat mereka girang bukan kepalang. Beberapa anak terlihat sibuk mencabut. Beberapa yang lain terlihat sibuk memotong pangkal akar dan mengikat. Tidak hanya memanen, oleh beberapa aktivis Tunas Hijau, siswa-siswa ini juga diajak untuk memasak sayur hasil panen.

Dalam sesi penutupan kegiatan, perwakilan kader lingkungan hidup SMPN 28 memaparkan rencana mereka untuk melaksanakan pengomposan dan bercocok tanam organik di sekolah. “Kebetulan sekolah kami mempunyai area yang cukup luas untuk melakukan urban farming dan pengomposan,” kata Rohkma yang menjabat sebagai ketua kader lingkungan. Rohkma menjelaskan bahwa hasil kunjungan ini akan dilaporkan kepada guru pembina lingkungan hidup dan kepala sekolah agar sesegera mungkin rencana kader lingkungan hidup dapat terlaksana. (njeng)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.