Siswa SDN Gayungan I Diajari Pemilahan Sampah

Surabaya- Seluruh kelas dan halaman SDN Gayungan I telah dilengkapi dengan 2 tempat sampah untuk sampah organik dan non organik. Namun, karena tidak adanya pengawasan yang ketat dari para guru, maka isi kedua tempat sampah tersebut tidak jauh berbeda. Plastik bekas es, bungkus jajan dan kertas adalah penghuni utama kedua tempat sampah berbeda jenis tersebut. 

Sedangkan sampah daun langsung dibuang ke tempat sampah di depan sekolah oleh penjaga sekolah. Keberadaan sampah sisa makanan nyaris tidak dapat ditemukan di sekolah yang berada di Jl. Gayungan Pasar ini. Pasalnya, para murid jarang membawa bekal dari rumah dan sekolah ini tidak mempunyai kantin.

Sampah yang masih bercampur tentu saja dapat menyebabkan perubahan iklim karena pada umumnya, sampah tersebut dibiarkan menggunung di TPS. Sampah yang menggunung tersebut dapat menimbulkan gas metana yang bila terakumulasi di atmosfer dan dapat menyebabkan pemanasan global yang berujung pada perubahan iklim.

Siswa SDN Gayungan I diajak melakukan pemilahan sampah

Untuk memperlambat perubahan iklim, 30 siswa perwakilan kelas 4 dan 5 SDN Gayungan I mengadakan pemilahan sampah. Walau berjumlah sedikit, kelima putra pilihan tersebut bekerja dengan giat memilah sampah sesuai dengan jenisnya. Dengan tanpa ragu, tangan-tangan kecil mereka merogoh tempat sampah yang tinggi tong sampahnya nyaris setara dengan tinggi badan mereka.

Lain halnya dengan tim putri. Begitu mengetahui keadaan tempat sampah yang kotor dan bau, mereka bekerja dengan kurang giat. Tak sedikit pula yang hanya berlagak memilah sampah padahal hanya berdiri mengitari tempat sampah sembari memperhatikan dengan jijik teman putra bekerja.

Di akhir acara, Tunas Hijau meminta tim kader lingkungan untuk membawa bekal makanan dan minuman sendiri dari rumah agar volume sampah di sekolah dapat berkurang. Jika jajan di sekolah, mereka berjanji untuk membuang sampah sesuai dengan jenisnya. “Jika ada yang melanggar, maka konsekuensinya adalah memilah semua sampah di seluruh sekolah,” usul Fani Wildan Pratama. (ella)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.