International Schools Partnership Antara SMPN 23 dan Ashiya Kokusai Junior High School Jepang Terus Berlanjut

Surabaya- Melalui sebuah gambar berbentuk mural atau lukisan dalam kanvas berukuran 1,5 x 3,65 meter, dapat mempersatu atau mempererat komunikasi yang terjadi antara negara satu dengan negara yang lain. Salah satunya yang terjadi pada SMPN 23 Surabaya dengan Ashiya Kokusai Junior High School Jepang

Dua mural yang masing-masing telah diselesaikan separuhnya oleh Ashiya Kokusai Junior High School Jepang. Selanjutnya, kedua mural itu akan diselesaikan oleh SMPN 23 Surabaya

Bahkan salah satu siswa dari Ashiya Kokusai Jepang, Hiroka, berkunjung ke sekolah yang berada di daerah Kedung Baruk ini untuk kegiatan Artmile Environment Education Youth Summit of Pacific RIM Countries bersama perwakilan pelajar Jepang lainnya. Tidak hanya itu, komunikasi pun berlanjut melalui media online dengan Skype.

”Kami sedang merencanakan untuk mengajak mereka melanjutkan percakapan melalui video conference. Karena melihat wajah mereka lagi pasti sangat seru,” ungkap Farah, siswa kelas 8 SMPN 23, Senin (14/1) kepada Tunas Hijau di sekolahnya saat pembinaan program International International Mural Exchange yang Tunas Hijau menjadi koordinator untuk Indonesia .

Dalam Mural Exchange ini, mereka mendapatkan kiriman 2 kain mural lagi yang separuh gambarnya sudah dikerjakan oleh siswa dari Ashiya Kokusai. Dengan mengambil tema penggabungan antara budaya, keanekaragaman hayati dan orang berkebutuhan khusus. Chikako Sadamastsu, guru pendamping sekolah dari Jepang ini menginginkan unsur orang cacat didalamnya karena di sekolah yang diajarnya terdapat program khusus bagi siswanya untuk membantu orang-orang berkebutuhan khusus.

“Kami menambahkan gambar orang berkebutuhan khusus karena di sekolah kami ada program khusus. Kami harap di kalian juga menambahkan gambar orang berkebutuhan khusus, tetapi tidak harus memakai kursi roda seperti gambar kami. Untuk menghargai orang-orang tersebut,” ucap Chikako dalam surat elektronik yang disampaikan melalui forum online khusus program ini.

Sementara itu, untuk bagian keanekaragaman hayatinya, Chikako menggambarkan burung terkenal yang ada di Jepang. Chikako berharap siswa SMPN 23 melengkapi gambar tersebut dengan menggambar burung yang terkenal dari Indonesia. Disisi lain, Chikako menggambarkan sebuah galaksi yang melambangkan kebersamaan yang terjalin antara sekolah Ashiya Kokusai dengan SMPN 23.

“Saya harap kalian menggambarkan tanaman sansivera yang merupakan ikon sekolah kalian. Kemudian saya harap kalian juga melanjutkan gambar pelangi yang berbentuk orang diatas kain tersebut,” pinta Chikako kepada siswa SMPN 23 dalam rancangan desain yang dikirim melalui forum.

Dalam percakapan yang terjalin melalui forum online khusus tersebut, video conference direncanakan digelar pada 21 Januari nanti. Menurut Kun Mariyati, dirinya dan siswa yang lain sudah merasa dekat sekali dengan pelajar dari Jepang, khususnya Hiroka. ”Kami ingin mengenal mereka lebih dekat. Kalau bias bersahabat dengan mereka,” ujar Kun Mariyati, guru SMPN 23 peraih penghargaan Eco Teacher (Junior) of the Year 2011.

“Kami juga ingin tahu bagaimana kondisi sekolah Hiroka. Maka dari itu kami menawarkan digelarnya video conference ini, sekaligus kami akan bertanya tentang desain gambar yang kedua tentang kupu-kupu besar, yang menurut kami kurang jelas rincian desainnya,” ujar Kun Mariyati kepada Tunas Hijau. (ryan)