Peserta Susur Kalimas Dikejutkan Dengan Sedot WC di Kawasan Petekan

SURABAYA- Empat belas siswa dan dua guru SMP SAIM Surabaya bersama Tunas Hijau melakukan penyusuran sungai Kalimas Surabaya, Sabtu (9/3). Aktivitas ini merupakan bagian dari program konservasi sungai yang dilakukan sekolah di kawasan Medokan Semampir itu didampingi Tunas Hijau untuk pengembangan program sister schools mereka dengan sekolah di Perth, Australia Barat. 

Penyusuran sungai Kalimas itu diawali dari Hutan Kota I Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup yang berada di bantaran sungai Kalimas, tepat di seberang Grand City Surabaya. “Hutan kota ini adalah salah satu upaya warga kota Surabaya untuk menjaga kelestarian sungai Kalimas,” kata aktivis senior Tunas Hijau Bram Azzaino saat memberikan pengarahan kepada peserta Susur Kalimas.

Siswa SMP SAIM Surabaya, peserta Susur Kalimas, saat pembekalan di Hutan Kota I Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup
Siswa SMP SAIM Surabaya, peserta Susur Kalimas, saat pembekalan di Hutan Kota I Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup

Hutan Kota I Pangeran dan Puteri Lingkungan Hidup sangat istimewa. “Lahan ini sebelumnya adalah lahan kosong yang difungsikan sebagai tempat penampungan sampah sementara. Bahkan sampah di lahan ini pernah menggunung,” kata Bram Azzaino. Sampah yang menggunung di lahan itu terjadi pada tahun 2001 saat ada konflik di eks TPA sampah Keputih Surabaya.

Dijelaskan oleh Bram Azzaino bahwa pemanfaatan lahan bantaran atau tepian sungai untuk pepohonan merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian sungai. “Dengan banyaknya pepohonan di bantara sungai, dapat menghindarkan terjadinya longsor tanah bantaran sungai. Pepohonan di bantaran sungai juga bisa mengurangi kekeruhan air sungai karena berkurangnya tanah bantaran yang hanyut ke sungai saat hujan,” lanjut Bram.

Di Taman Prestasi, yang terletak di belakang Gedung Negara Grahadi Surabaya, para peserta Susur Kalimas melakukan wawancara terhadap pengunjung taman dan para pedagang makanan dan minuman di food court yang dibangun khusus oleh Pemerintah Kota Surabaya di bantaran sungai Kalimas. Ada 30 lapak pedagang makanan minuman di food court itu.

Jasa sedot WC yang ada di bantaran sungai Kalimas kawasan Petekan Surabaya. Tinja yang ditampung dengan menggunkan drum plastik itu biasanya dihanyutkan ke sungai Kalimas pada malam hari
Jasa sedot WC yang ada di bantaran sungai Kalimas kawasan Petekan Surabaya. Tinja yang ditampung dengan menggunkan drum plastik itu biasanya dihanyutkan ke sungai Kalimas pada malam hari

Menurut salah satu pedagang di food court itu, sudah pantang bagi para pedagang di food court itu untuk membuang sampah ke sungai Kalimas. “Kami sudah merasa memiliki Kalimas ini. Kebersihan Kalimas menjadi penunjang kami dalam berdagang makanan dan minuman di sini,” kata salah seorang ibu yang menempati stan nomor 21. Dia mengatakan bahwa dua kali dalam sehari ada petugas yang mengambil sampah pedagang untuk dipindahkan ke TPS terdekat.

Susur Kalimas yang dilakukan sambil berjalan kaki itu berakhir di kawasan Peneleh. Di situ mereka dikejutkan dengan adanya belasan gerobak dengan drum plastik besar di masing-masing gerobak itu. Drum plastik itu adalah wadah yang selama ini digunakan untuk memindahkan tinja atau kotoran tubuh manusia.

Menurut penuturan tiga orang pekerja sedot WC yang ditemui peserta Susur Kalimas itu, minimal dua kali dalam sepekan masing-masing dari mereka mendapat orderan untuk sedot tinja dari rumah tangga. Tinja itu biasanya mereka buang ke sungai Kalimas saat malam hari. (ron)