Penghijauan Gagal, Pesantren Ul-Ulum Walhikam Buat Lubang Resapan

SURABAYA – Pembinaan lingkungan hidup Eco Pesantren yang dilakukan Tunas Hijau untuk pemanfaatan lahan kosong dengan penghijauan di pesantren Ul-Ulum Walhikam Surabaya tampaknya masih menuai kegagalan. 

Santri Pesantren Ul-Ulum Walhikam Surabaya membuat lubang resapan biopori
Santri Pesantren Ul-Ulum Walhikam Surabaya membuat lubang resapan biopori

Setelah gagal menghijaukan pesantren yang terletak di daerah Jagir dengan tanaman sirih (Paper bettle), program urban farming berupa penanaman bibit kangkung juga belum berhasil dengan alasan yang sama.

Lahan berukuran sekitar 1,5 x 3 meter tersebut menjadi tempat bermain favorit bagi bebek dan ayam milik pesantren. Akibatnya, hanya berselang semalam saja, lahan tersebut sudah penuh jejak hewaan berkaki dua tersebut.

Pembinaan Eco Pesantren ketiga untuk pesantren Ul-Ulum Walhikam adalah membuat lubang resapan biopori, Jumat (26/4). Sisa santri putri yang tidak ikut kerja bakti membersihkan kediaman keluarga pengurus pesantren dan piket masak diajak Tunas Hijau untuk membuat lubang yang berguna sebagai tempat resapan air hujan dan pengomposan.

Lahan yang dipilih adalah lahan tempat menanam sirih dan kangkung. Setelah seluruh kerikil dan sampah disingkirkan, para santri segera bekerja sama membuat lubang resapan. Banyak sampah plastik yang dijumpai ketika membuat lubang resapan.

Kehadiran batang tanaman manga (Mangifera indica) yang telah ditebang dan diletakkan begitu saja di depan mushola pesantren memudahkan para santri untuk mencari daun kering.

Sampah daun dari tanaman bambu di dekat jalan masuk ke pesantren putri juga tinggal dikumpulkan dengan cara disapu menggunakan sapu lidi lantas dimasukkan ke dalam lubang resapan. Keseriusan para santri putri saat membuat lubang resapan telah menarik perhatian keluarga ndalem yang kebetulan keluar-masuk pesantren.

Lubang resapan yang telah dibuat selanjutnya diisi dengan sampah organik
Lubang resapan yang telah dibuat selanjutnya diisi dengan sampah organik

“Di sini lahannya luas, karena gak semua pesantren punya lahan. Apalagi yang seluas ini. Eman kalo cuma buat tiga lubang resapan. Tak kasih tantangan wis. Buat minimal 40 lubang. Pasti bisa kalau mau berusaha dan gak nyerah. Ntar pavingnya tinggal dibuka satu aja terus buat lubang resapan kayak tadi,” kata aktivis Tunas Hijau Rakhmah Ananda Nur Fadlilah.

Untuk jarak antar lubang resapan, mereka disarankan membuatnya sekitar 1 meter. “Ya ntar kalo kepenthok batu, tinggal dicari tempat lain kalo gak didodok pakai linggis. Tadi aja bisa. Kalo capek, ya gantian santri lainnya biar semua bisa ngerasain cara bikin lubang resapan,“ tantang Rakhmah Ananda Nur Fadlilah. (ella)