SDN Semolowaru I Berkebun dan Belajar Kompos di Markas Tunas Hijau

Siswa SDN Semolowaru I memotong sampah organik menjadi berukuran lebih kecil agar cepat membusuk
Siswa SDN Semolowaru I memotong sampah organik menjadi berukuran lebih kecil agar cepat membusuk

SURABAYA – Pasca mendapatkan gelar menjadi sekolah terbaik pada program wirausaha lingkungan hidup Eco-preneur 2013 tingkat SD, euforia kemenangan SDN Semolowaru I pun hanya berlangsung singkat saja. Keinginan SDN Semolowaru 1 untuk terus memberikan pendidikan lingkungan hidup kepada siswanya berlanjut. 

Kamis (23/05), 45 siswa kelas 3 dan 4 SDN Semolowaru I berkunjung ke markas Tunas Hijau yang lokasinya tidak jauh dari sekolah mereka. Hal ini mereka manfaatkan dengan berjalan kaki dari sekolah menuju markas Tunas Hijau yang berlokasi di Semolowaru Indah I Blok T  Nomor 10. Sekitar 10 menit jalan kaki dari sekolah mereka.

Pembibitan tanaman sayuran berukuran pendek dilakukan oleh para siswa SDN Semolowaru I
Pembibitan tanaman sayuran berukuran pendek dilakukan oleh para siswa SDN Semolowaru I

Berbagai kegiatan lingkungan mereka dapatkan di markas Tunas Hijau. Diantaranya adalah belajar pengomposan sampah organik, pembibitan sawi dan pengolahan sampah kertas. Dalam kunjungan ini, mereka dibagi menjadi dua kelompok untuk mendapatkan masing-masing tema materi yang disiapkan Tunas Hijau ini.

Seperti yang disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau bahwa dalam kunjungan ini, syaratnya adalah setiap siswa harus aktif bertanya tentang materi. “Kakak akan mencari satu siswa terbaik yang banyak bertanya dan banyak prakteknya. Jadi kunjungan kalian tidak akan sia-sia jadinya,” terang Anggriyan.

Selain bercocok tanam pertanian perkotaan dan pengomposan, para siswa SDN Semolowaru I belajar mengolah sampah kertas menjadi kertas baru
Selain bercocok tanam pertanian perkotaan dan pengomposan, para siswa SDN Semolowaru I belajar mengolah sampah kertas menjadi kertas baru

Dalam materi pengomposan yang dipandu oleh Bambang Soerjodari, aktivis Tunas Hijau, diterangkan bahwa sampah organik khususnya daun bisa diubah menjadi pupuk kompos. Pembuatan pupuk kompos pun ada yang alami dan ada yang buatan.

“Kalau yang alami itu ya seperti yang kalian lihat ini, sampah organik khususnya dedaunan hanya dikumpulkan saja, kemudian dibusukkan sendiri oleh alam dengan ditumpuk dibiarkan selama 4 minggu. Sedangkan kita hanya hanya membantunya dengan mencacah daunnya agar berukuran lebih kecil,” jelas Bambang sambil mengajak siswa ikut mencacah daun keringnya.

Lain halnya dengan pembibitan sawi sebagai upaya pemanfaatan lahan kosong yang dipandu oleh Anggriyan, aktivis Tunas Hijau. Dengan membawa cangkul sambil mencampur tanah dan kompos yang sudah siap sedia, Anggriyan mengatakan bahwa pembibitan sawi ini merupakan salah satu upaya memanfaatkan lahan kosong.

“Kalian bisa terapkan ini di sekolah, memanfaatkan lahan kosong sekolah, kemudian ditanami sawi atau jenis tanaman sayuran yang lainnya. Nah, sekarang bantu Kakak untuk mengisi polibag ini dengan tanah yang sudah dicampur pupuk ini ya,” ujar Anggriyan.

Satuman, aktivis Tunas Hijau, mengajak mereka untuk melakukan pengolahan sampah kertas menjadi kertas baru. Satuman menjelaskan bahwa pentingnya pengolahan sampah itu adalah kita bisa melakukan penghematan kertas. “Kalau kertas bekas yang ada di sekolah kalian dibiarkan saja, maka sama saja kalian menebang pohon untuk membuat kertasnya lagi. Maka dari itu kita perlu mengolah sampah kertas tersebut menjadi kertas baru lagi,” ucap Satuman.

Tanpa menunggu lama, Diyah Alviana, siswa kelas 4, kemudian mencoba membuat kertas baru dari bubur kertas bekas yang sudah dihaluskan. “Wah sangat mengasyikkan, Kak, ini saya baru pertama kali dan saya ingin membuat kertas lagi,” ucap Diyah Alviana.

semolomarkas (2)
Panen terong dilakukan sebelum kegiatan usai dilakukan

Sementara itu, sebagai bonusnya, rombongan 45 orang siswa dan 5 orang guru ini diajak untuk memanen tanaman terong milik Tunas Hijau. “Wah benar-benar istimewa, niatnya belajar lingkungan eh pulang malah bawa oleh-oleh terong,” ujar Anik Widiarti, guru pembina lingkungan hidup SDN Semolowaru I. (ryan/ro)