Siswa 5 Sekolah Tanam 250 Lubang Resapan di Jalur Hijau Jalan Kenjeran

Siswa SMPN 9 Surabaya nampak sedang membuat lubang resapan biopori
Siswa SMPN 9 Surabaya nampak sedang membuat lubang resapan biopori

SURABAYA – Ajakan untuk menghadang agar air laut tidak semakin banyak masuk ke daratan disampaikan Tunas Hijau mengawali Gerakan Sejuta Lubang Resapan Surabaya. “Air laut mulai masuk ke daratan dan mengisi kekosongan air air tanah. Hal ini ini sangat berbahaya. Jika terus dibiarkan, maka akan merusak bangunan-bangunan. Tanaman yang ada juga akan mati atau tidak bisa berkembang dengan subur,” kata aktivis senior dan Presiden Tunas Hijau Mochamad Zamroni kepada sekitar 80 siswa dan guru dari 5 sekolah peserta gerakan.

Dorong terus sambil putar searah jarum jam
Dorong terus sambil putar searah jarum jam

Dalam kegiatan yang digelar Tunas Hijau bersama Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya ini juga mengajak sekolah-sekolah yang ada di sekitar jalur hijau Jalan Kenjeran, yang menjadi lokasi kegiatan. Sekolah-sekolah yang ikut serta adalah SDN Gading I, SMP Negeri 9, SMP PGRI 6, SMA Negeri 3 dan SMA Negeri 19 Surabaya.

Banyak yang dirasakan oleh para peserta dan menjadi pengalaman menarik bagi mereka. Seperti yang disampaikan oleh Yulian Putro Kartiko yang mengaku asyik bisa belajar sambil peduli lingkungan hidup di luar ruangan. “Buat lubang resapan ini seru muter-muter. Yang paling enak kita gak ikut pelajaran tapi tetep dapat nilai,” ujar siswa dari SDN Gading 1 ini sambil tersenyum. Walaupun dengan motivasi yang berbeda, diharapkan manfaat dari pembuatan lubang biopori ini dapat dirasakan bersama.

Bagi sebagian siswa yang mengikuti kegiatan ini, pembuatan lubang biopori bukan aktivitas baru. Sejatinya mereka telah membuat di sekolah. “Kami juga membuat cukup banyak lubang resapan biopori di sekolah untuk mencegah banjir dan juga mengolah sampah organik menjadi kompos,” terang Junaidi, siswa SMP PGRI 6.

Bila peserta kegiatan dari SMP PGRI 6 sudah berpengalaman, tidak demikian bagi peserta kegiatan dari sekolah yang lainnya. Aliqamariah, Rifatus Sholihah dan Khairani, ketiganya siswa SMAN 3 Surabaya, mengaku pembuatan lubang resapan biopori yang dilakukan pagi ini adalah pengalaman pertama bagi mereka.

“Kami akan segera memulai melakukan gerakan yang sama di sekolah dengan melibatkan sebanyak mungkin warga sekolah,” kata Sumini, guru pembina lingkungan hidup SMAN 3 Surabaya yang ikut serta kegiatan ini. Heri Purwanto, kepala SDN Gading I, juga mengaku akan segera membuat lubang resapan di sekolahnya dengan melibatkan semua guru, siswa dan penjaga sekolah.

Tunas Hijau memberikan pengarahan kepada seluruh peserta sebelum kegiatan dimulai
Tunas Hijau memberikan pengarahan kepada seluruh peserta sebelum kegiatan dimulai

Tekstur tanah di sekolah dan di jalan jelas berbeda, hal ini dirasakan oleh beberapa peserta. “Keras, banyak batu yang besar-besar. Tanahnya juga berpasir. Agak ditekan ngebornya,” ujar Noris Riswanda, peserta dari SMPN 9. Karena ada di tengah jalan sehingga ada beberapa titik yang tekstur tanahnya agak keras. Namun kondisi ini tidak membuat peserta kegiatan menyerah. Terbukti dalam waktu sekitar 90 menit, 250 lubang resapan berhasil dibuat. 250 lubang resapan itu pun langsung diisi penuh sampah dedaunan yang ada di sekitarnya.

Ada fakta menarik yang ditemukan melalui pembuatan lubang resapan di sepanjang jalur hijau Jalan Kenjeran dari perempatan lampu merah Jalan Kedung Cowek. “Ternyata selama ini air tidak banyak meresap ke dalam tanah di jalur hijau yang sudah penuh dengan taman ini. Mungkin karena kontur tanah penyusunnya yang banyak pasir dan batu urugan,” kata Zamroni setelah pembuatan beberapa lubang resapan. (sari/ro)