Aspal dan Batu Kalah Dengan Semangat Kader Lingkungan SMPN 45 Membuat Lubang Resapan Biopori

Surabaya – Hujan yang turun membasahi tanah taman sepanjang Jalan Ir. Soekarno membawa dampak baik dan buruk. Baiknya adalah hujan tersebut banyak membantu menggemburkan tanah yang akan di bor, sebelum kegiatan Gerakan Sejuta Lubang Resapan Biopori, Kamis (20/06).

Buruknya,  Meski tanah dalam keadaan gembur, peserta yang berasal dari kader lingkungan hidup SMPN 45 mengalami kesulitan dalam membuat lubang resapan. Disebabkan, terdapat aspal jalan raya dan batu berada dibawah taman.

Pantang Menyerah, meskipun banyak terdapat aspal dan batu didalam tanah taman tersebut, kader lingkungan dengan semangatnya masih bisa membuat lubang resapan biopori
Pantang Menyerah, meskipun banyak terdapat aspal dan batu didalam tanah taman tersebut, kader lingkungan dengan semangatnya masih bisa membuat lubang resapan biopori.

“Tidak sebanyak sebelumnya, karena kondisi medan banyak batu dan aspalnya sehingga peserta lebih cepat lelah. Hebatnya , meskipun dalam kondisi yang lelah peserta yang berjumlah 15 siswa dan seorang guru SMPN 45 mampu membuat 54 lubang resapan,” terang Satuman, aktivis Tunas Hijau.  lebih lanjut, 54 lubang resapan bukan hasil akhir dari usaha tim lingkungan hidup sekolah yang berlokasi di Jalan Mulyorejo nomer 184, mereka juga merencanakan akan membuat lubang resapan di lingkungan sekolah.

Rata-rata kedalaman lubang resapan air hujan yang dibuat mempunyai kedalaman 50 sentimeter ke dalam tanah. “Saya rasa anak-anak suka dengan kegiatan sejuta lubang resapan biopori ini. Buktinya mereka mau membuat lubang resapan air hujan meski panas dan susah karena banyak batu. Sehingga lubang resapan banyak yang tidak mencapai 100 sentimeter ke dalam tanah,” terang Yuli Susilowati, pembina lingkungan hidup SMPN 45.

Tak Kenal Lelah, meskipun terik matahari menyengat, kader lingkungan SMPN 45 ini masih terus berjuang membuat lubang resapan biopori
Tak Kenal Lelah, meskipun terik matahari menyengat, kader lingkungan SMPN 45 ini masih terus berjuang membuat lubang resapan biopori.

Sementara itu, terik matahari di lapangan ketika pembuatan lubang resapan air hujan sering kali mengganggu peserta. “Perlu membawa topi dan baju lengan panjang, agar tidak tersengat panas matahari. Tak kalah penting membawa air mineral dan botol plastik tidak sekali pakai. Sehingga pas haus tidak menghalangi berkegiatan,” tutur Satuman. lebih lanjut, dirinya mengajak mereka untuk memasukkan daun kering tersebut ke dalam lubang resapan.

Gerakan Sejuta Lubang Resapan Biopori ini juga bisa dipadu dengan kegiatan bersih-bersih sampah. Menurut pengakuan Satuman, setiap akan selesai dalam pembuatan lubang resapan, peserta diajak memungut sampah bila melihat ada sampah di sekitarnya. Sehingga kegiatan pembuatan lubang resapan tidak hanya mengalirkan air hujan ke dalam tanah tapi juga membuat lingkungan sekitar jadi bersih dan menyuburkan kondisi tanaman dari pencemaran tanah akibat sampah. (1man)