Diklat Lingkungan SMKN 1 Deklarasikan Perilaku Ramah Lingkungan Di Sekolah

SURABAYA – Menjadikan saku sebagai tempat sampah sementara merupakan salah satu upaya penerapan perilaku ramah lingkungan di sekolah. Kebisaan tersebut yang masih dibudidayakan oleh kader lingkungan SMKN 1 dalam kegiatan diklat kaderisasi SBLH (Sekolah Berwawasan Lingkungan Hidup), Minggu (09/02) dengan melibatkan Tunas Hijau.

Kader lingkungan SMKN 1 melakukan kampanye lingkungan memanfaatkan momen Car Free Day darmo dengan membawa media poster lingkungan
Kader lingkungan SMKN 1 melakukan kampanye lingkungan memanfaatkan momen Car Free Day darmo dengan membawa media poster lingkungan

Dalam diklat lingkungan yang melibatkan sedikitnya 30 orang siswa, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan menerapkan berbagai perilaku ramah lingkungan di sekolah. Menurut penuturan Anggriyan Permana, aktivis Tunas Hijau, perilaku ramah lingkungan menjadi unsur penting untuk membentuk anak berkarakter peduli lingkungan.

“Berbagai macam perilaku ramah lingkungan yang bisa dilakukan di sekolah diantaranya adalah memilah sampah antara sampah organik dan anorganik. Menghemat pemakaian energi listrik di kelas dan  tidak menggunakan sedotan dan plastik es,” ucap Anggriyan Permana. Tidak hanya menerapkan perilaku ramah lingkungan saja, mereka harus mengajak orang lain untuk menerapkan hal yang sama.

Kader lingkungan SMKN 1 sedang melakukan perawatan keranjang komposter dengan mengaduk dan mengisi dengan sampah organik
Kader lingkungan SMKN 1 sedang melakukan perawatan keranjang komposter dengan mengaduk dan mengisi dengan sampah organik

Dalam diklat lingkungan hidup ini, kader lingkungan ingin mendeklarasikan komitmen mereka untuk peduli lingkungan melalui beberapa perilaku ramah lingkungan. Menurut penuturan Azizah Ayu Shintiyana, salah seorang kader lingkungan, mengatakan kader lingkungan perlu menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

“Kami sepakat untuk mendeklarasikan bahwa anak-anak SBLH tidak akan menggunakan plastik es dan sedotan, selalu jadikan saku sebagai tempat sampah sementara,” ucap Azizah, siswa kelas 11. Sementara itu, untuk merealisasikan salah satu isi deklarasi tersebut, Tunas Hijau mengajak kader lingkungan mengecek kondisi keranjang komposter, pengomposan segitiga angin dan tong aerob.

Salah satu kader lingkungan SMKN 1 sedang mengecek kondisi lubang biopori di sekolahnya dnegan mengisi sampah organik
Salah satu kader lingkungan SMKN 1 sedang mengecek kondisi lubang biopori di sekolahnya dnegan mengisi sampah organik

“Lihat ini, keranjang dan tong komposter kalian sepertinya jarang untuk dirawat atau sekedar diisi dengan sampah organik. Jadi ayo kita bereskan dulu pengolahan sampah kalian, dengan mengganti starter dan kardus yang ada pada keranjang komposter,” ucap Ardita Febrianti, siswa kelas 11. Deklarasi ramah lingkungan yang disusun oleh kader lingkungan tersebut akan dipajang pada mading sekolah setelah diklat selesai.

Tidak cukup hanya dengan deklarasi ramah lingkungan saja, Tunas Hijau memberikan tantangan kepada kader lingkungan untuk segera memperbaiki kondisi keranjang komposter, lubang resapan dan tong komposter juga.

“Saya tantang kalian untuk memperbaiki keranjang komposter yang terlihat jarang untuk diisi sampah organik. Tidak hanya satu keranjang, tetapi saya tantang untuk memperbaiki dan mengaktifkan kembali 4 keranjang komposter dalam minggu depan,” ucap Anggriyan, aktivis Tunas Hijau. Tantangan inipun segera disetujui kader lingkungan dengan mengatakan segera memulainya pada hari Senin. (ryn)