Lulut Sri Yuliani, Penggiat Mangrove Peraih Kalpataru 2011

Mangrove adalah kawasan hutan bakau yang tanamannya terkena pasang surut air laut. Fungsi mangrove adalah menangkal abrasi; memfilter pencemaran air, udara dan tanah dengan kemampuan 1000 kali lipat dari tanaman biasa; cadangan oksigen; cadangan pangan, sandang, papan, medis; wisata; tanaman hias dan bahan pakan ikan.

Berkat mangrove, Lulut Sri Yuliani mendapat penghargaan Kalpataru dari Presiden Republik Indonesia pada tahun 2011.  Aksi berkelanjutan yang dilakukannya adalah pemanfaatan limbah mangrove untuk beragam jenis pemanfaatan dengan prinsip zero waste. Labanya untuk konservasi mangrove dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan mangrove.

Kegemaran pada mangrove dimulai Lulut Sri Yuliani sejak 1971, saat masih Sekolah Dasar. “Kedung Baruk, Keputih dan Wonorejo Surabaya masih sangat bagus mangrovenya. Kedung Baruk yang sekarang ini sudah menjadi perumahan,” kata Lulut Sri Yuliani yang tinggal di Jalan Wisma Kedung Asem Indah I nomor 5 Surabaya.

Menurut Lulut, cara menanam yang kurang tepat sering menjadi alasan kegagalan dari penanaman mangrove yang selama ini dilakukan. “Sebelum menanam, harus survei lahan. Survei untuk menentukan kandungan lumpur, garam, pasir, cadas, karang, arah angin, unsur hara, pasang surut air laut, dan tingkat pencemaran. Cara menancapkan ajir juga sangat berpengaruh dalam keberhasilan penanaman mangrove,” kata Lulut.

Pemilihan bibit yang layak tanam juga sangat menentukan. “Bibit yang baik adalah bibit yang berusia 4-6 bulan. Umur bibit yang lebih tua atau lebih muda akan menyebabkan kematian pada bibit yang akan ditanam. Penentuan jenis mangrove sangat berpengaruh terhadap  kondisi lahan yang akan ditanami,” jelas Lulut. Kandungan lumpur biasanya berhubungan dengan unsur hara.

Banyak beralihnya tambak tradisional menjadi tambak insentif sering menjadi penyebab berkurangnya mangrove. Pembangunan perumahan di kawasan mangrove, menurut  Lulut, menjadi alasan semakin banyaknya kawasan mangrove yang beralih fungsi.

Di tangan Lulut, mangrove juga bisa menjadi pewarna alami untuk batik, beras organik, lulur, sabun cuci tangan, shampoo, sirup, pembersih lantai, tepung, kecap, sabun cuci kain, permen, bakery, cookies, abon, teh, kopi, ramuan peredam pendarahan, minyak terapi kebotakan plus otot sendi robek, dodol, bakom (bakteri antagonis komposting) dan briket.

“Akar dan batang tidak boleh dirusak. Yang diolah hanya buah yang tidak layak tanam, bunga yang jatuh, daun sisa pemangkasan. Tepung misalnya, diolah dari daun, bunga atau buahnya. Masing-masing jenis mangrove beda bagian yang bisa dimanfaatkan,” kata Lulut Sri Yuliani. Ada 68 jenis dan 100-an spesies mangrove di Indonesia. Indonesia paling lengkap jenis dan spesiesnya. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.