Rosidah, Guru Pembina Lingkungan Hidup SMPN 2 Gempol, Pasuruan

Satu keteladanan lebih baik daripada seribu perintah atau nasehat. Pepatah itu sangat pas bagi sosok guru pembina lingkungan hidup SMPN 2 Gempol, Pasuruan ini. Dia tidak hanya meminta siswa-siswa untuk peduli lingkungan hidup dengan aksi nyata. Dia juga melakukan aksi nyata bersama siswa-siswanya. Dialah Rosidah, yang lahir di Surabaya pada 1 September 1977.

Nisaul Khusnah, siswa kader lingkungan hidup SMPN 2 Gempol,  mengatakan bahwa Rosidah selalu bersama kami melakukan aksi lingkungan hidup di sekolah. “Bu Rosidah gak hanya meminta kami melakukan aksi peduli lingkungan, tapi beliau juga turut serta,” kata Nisaul Khusnah menilai kiprah guru pembina lingkungannya itu.

Nur Ahmad S. Syauri,  ketua OSIS,  mengatakan bahwa Rosidah gak hanya bisa memerintah siswa untuk melakukan aksi peduli lingkungan hidup.  “Bu Rosidah selalu terlibat langsung bersama kami melakukan aksi nyata peduli lingkungan hidup.  Tidak hanya menjadi penonton,” kata Ahmad yang juga aktif sebagai kader lingkungan hidup sekolah ini.

Bagi Rosidah, tantangan terberat untuk membiasakan budaya lingkungan adalah membangun karakter dan mental manusianya. “Bukan hanya siswa tetapi juga saya sendiri, bapak ibu guru, dan semua warga sekolah harus membiasakan budaya peduli lingkungan. Selain itu, teladan dari sosok guru (saya pribadi) itu juga harus terus dibangun dengan menumbuhkan  keikhlasan dalam perbuatan,” kata Rosidah, alumni S1 Bahasa dan Sastra Daerah UNESA ini.

Menurutnya, sebenarnya solusi membiasakan budaya lingkungan itu mudah tetapi sulit untuk menerapkannya. “Jika semua guru mau memberi teladan yang baik dan ikhlas, insya Allah semua siswa akan dengan sendirinya  mengikuti langkah kita. Nah, menumbuhkan mental teladan dan ikhlas itu yang harus digelorakan,” ujar Rosidah yang setiap harinya mengajar pelajaran Bahasa Daerah ini.

Mengenai capaian lingkungan hidup yang sudah berhasil di SMPN 2 Gempol, Rosidah mengatakan belum banyak. “Yang sudah berhasil berubah adalah bahwa sekolah kami sekarang lebih hijau dan rindang karena jumlah pohon bertambah banyak. Pohon itu dari siswa, dan yang menanam juga siswa. Kantin lumayan berubah dari fisik, makanan, dan kebersihannya. Para penjual kantin juga mulai paham dengan kesehatan dibandingkan 2 tahun yang lalu,” ujar Rosidah. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *