Dwi Murwanti, Pengawal Pengomposan Sisa Makanan Kantin SMPN 41 Surabaya

Tidak banyak sekolah yang bisa merealisasikan kantin tanpa kemasan makanan dan minuman sekali pakai. Sekolah yang bisa mengoptimalkan pengolahan sampah organik kantin jumlahnya lebih sedikit lagi. SMPN 41 Surabaya yang berlokasi di Jalan Gembong Sekolahan Surabaya bisa merealisasikannya.

Ialah Dwi Murwanti, guru pembina lingkungan hidup SMPN 41 Surabaya, yang mengawal realisasi pengomposan sampah organik sisa makanan kantin setiap harinya. Ya, setiap harinya. Bukan hanya sebulan sekali. Bukan hanya sekali dalam sepekan. Tapi, setiap hari, saat hari sekolah. Setiap hari, saat kantin sekolah berjualan.

“SMPN 41 Surabaya sedang dalam tahap pembangunan gedung. Hampir semua aktivitas warga sekolah terpengaruh pembangunan fisik sekolah ini. Kantin sekolah pun relokasi ke tempat sementara,” ujar Dwi Murwanti, guru Ilmu Pengetahuan Sosial kelahiran Surabaya, 30 September 1969 ini.

Tidak hanya kantin sekolah yang direlokasi. Beberapa komposter atau alat untuk mengolah sampah organik menjadi kompos pun bingung ditempatkan dimana. Ada keranjang takakura, tong aerob, tong pupuk cair, dan bak pengomposan komunal. Keranjang takakura menjadi prioritas yang tetap dioptimalkan setiap harinya selama proses pembangunan gedung sekolah. Sebab, selalu ada sisa makanan yang dihasilkan kantin sekolah ini.

Untuk pengolahan sisa makanan kantin dengan keranjang takakura, SMPN 41 Surabaya mengawali dengan membuat kesepakatan bersama penjual kantin. “Sesuai kesepakatan, ibu kantin harus mengumpulkan sisa makanan setiap pukul 16.00 WIB. Anak-anak tim komposter mengambil sisa makanan dari kantin untuk diproses di keranjang takakura. Rutin. Setiap hari,” terang guru yang tinggal di Jl.Gubeng Kertajaya 9E /19 Surabaya ini.

Tentunya ada banyak suka dan duka dalam merutinkan pengolahan sampah sisa makanan kantin selama beberapa bulan ini. “Sukanya jika tampak hasilnya, yaitu panen kompos terealisasi. Dukanya ketika menunggu kantin habis istirahat sore baru sisa makanan itu terkumpul. Sehingga anak-anak sering ijin saat jam terakhir pembelajaran,” jelas Dwi Murwanti.

Bau sampah sisa makanan yang menyengat sering dirasakan. “Baunya. Kadang anak-anak merasa mual. Padahal sisa makanan sehari lho. Mungkin karena banyaknya sampah yang dikumpulkan mulai habis istirahat pagi sampai istirahat sore,” ujar Dwi Murwanti yang menjadi pegawai negeri sipil sejak Maret 1999 ini.

Dijelaskan oleh Dwi Murwanti bahwa sisa makanan kantin dikumpulkan di bakul tempat berkatan. “Nunggu dari pagi sampai sisa makanan yang terakhir sore harinya baru dimasukkan ke keranjang takakura. Lalu diaduk. Kalau kurang kompos starter-nya, ya ditambahi agar baunya berkurang,” jelas Dwi Murwanti.

Bisa mengajak anak-anak jualan produk Ecopreneur di Tugu Pahlawan adalah pengalaman unik lain selama Ecopreneur 2017 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya, serta didukung oleh PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur dan Hotel Mercure Grand Mirama.

“Melalui realisasi penjualan produk Ecopreneur di tempat keramaian ini, anak-anak merasakan bisa mengimplementasikan sungguh-sungguh ini lho ecopreneur itu. Bisa berhadapan dengan masyarakat. Bagaimana hasil karyanya bisa diterima masyarakat, sungguh pengalaman yang luar biasa,” tutur Dwi Murwanti. (ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.