Rizki Amirulloh, Pembina dan Sahabat Kader LH SMAN 11 Surabaya

Umumnya pembina kader lingkungan hidup di sekolah-sekolah usianya diatas 30 tahun. Tidak dengan pembina kader lingkungan hidup SMAN 11 Surabaya, Rizki Amirulloh. Pemuda yang masih mengenyam bangku perkuliahan di salah satu perguruan tinggi negeri Surabaya ini, setiap Sabtu harus berkendara pulang pergi sejauh 20 kilometer dari tempat tinggalnya di Sidoarjo. Demi membina anak-anak muda di sekolah agar terus cinta terhadap lingkungan hidup di sekitarnya.

Pemuda yang pernah menyabet penghargaan Eco Student (Senior) of the Year 2013 Surabaya Eco School ini akrab dipanggil “Kimpul.” Kimpul acap kali menginduksi semangat-semangat perjuangannya dulu ketika masih duduk di bangku SMKN 1 Surabaya. Sederhananya, dia mau menjadikan kisah hidupnya dulu menjadi bahan pendidikan keteladanan ketika pembinaan lingkungan hidup.

Banyak dari adik didiknya yang terpukau dengan gaya pembinaannya yang terkesan tidak ketinggalan jaman dan bersahabat. “Orangnya asik. Bisa diajak bersahabat. Dulu sebelum ada Mas Kim, kelompok kami pasif tapi sekarang lebih rajin. Lebih banyak kegiatan, sehingga menjadi organisasi yang lebih baik lagi,” ujar Dhea Cika, siswa kelas XI IPA 6 SMAN 11.

Salah satu kiat Kimpul dalam melakukan pembinaan kader lingkungan biasa diawali dengan lawakan. “Bisa dengan cara pendekatan dengan gaya anak muda. Ngobrolin tentang bagaimana kabarnya mereka masing-masing. Mulai arahkan dengan kegiatan sesuai tema dan terus lanjutkan keceriahan hari itu dengan kegiatan yang disuka teman-teman,” terang Rizki Amirullloh di sela-sela kegiatan lingkungan hidup grebek pasar dan pengomposan bersama SDN Sambikerep II.

Selama ini kegalauan yang dirasakan kimpul mengenai peduli anak muda terhadap lingkungan hidup itu tenaga pendidiknya kata lain pembinanya. “Seharusnya guru-guru muda harus lebih aktif. Usia kadang memisahkan dunia komunikasi dan budaya antara anak muda dengan orang tua, sehingga tak jarang pesan pembina tak tersampaikan dengan benar,” ujar Kimpul.

Menurutnya, bukan pesannya yang salah. “Bukan ilmu pengetahuan serta pengalaman mendidik dari pembina tersebut yang salah. Tapi cara pendekatan dan komunikasinya yang kurang tepat,” imbuh mahasiswa jurusan Sastra Bahasa Indonesia ini.

Selama membina, Kimpul banyak menghadapi banyak sekali permasalahan hanya untuk memberikan pemahaman saja yaitu bandel. “Namanya anak muda pasti bandel. Kita jangan menyerah,” pesannya. Tak hanya siswa, kadang yang dirasakan pihak sekolah juga bisa dibilang bandel. “Betapa tidak, ketika waktunya pembinaan, kadang-kadang sekolah mendadak meliburkan kegiatan ekstrakulikuler karena ada alasan ini dan itu,” sahutnya.

Berbicara soal bandel, dulu pembina kader lingkungan hidup SMAN 11 ini juga terkenal bandel ketika masih berstatus siswa SMK. Namun bandel dalam arti berbeda seperti bandel ketika orang tua Rizki Amirulloh telah melarangnya untuk mengikuti kegiatan lingkungan hidup atau bergabung dengan Tunas Hijau.

“Karena mata kiri saya waktu tertusuk pisau tajam. Alhamdulillah selamat namun sekarang mata kiri saya jadi kabur dan menderita mata minus,” ujarnya sambil menunjukan mata kirinya.

Sementara itu beban terberat menjadi pembina menurut Kimpul bukan soal memberikan prestasi atau apresiasi kepada anak didiknya, tapi melainkan menjadi sahabatnya, kakaknya dan teladan. Dia bercerita, baru yang kedua untuk kesulitan adalah manajemen waktu yang dirasa menjadi beban beratnya. “Maklum, susah bagi waktu antara kuliah, kerja dan membina,” tambahnya.

Banyak alasan yang diceritakan pemuda, yang usianya menginjak 24 tahun ini, tentang motivasi dirinya yang masih membuatnya tetap menjadi pembina kader lingkungan sampai saat ini. Salah satunya kondisi jaman sekarang banyak masyarakat lokal yang menjadi masyarakat urban.

Entah karena kemajuan jaman atau karena kita tidak berbuat atau berkarya untuk lingkungan hidup. Inilah yang mendorong bahkan memaksanya, menyeret nuraninya untuk menjadi yang diinginkan lingkungan sekitarnya.  Dengan suara lirih, Kimpul membisikan kalimat “Agent of Change.”

Satuman, aktivis senior Tunas Hijau, yang pernah menjadi rekan kerja ketika sama-sama di Tunas Hijau, menceritakan bahwa Kimpul adalah salah satu pemuda terbaik yang peduli terhadap masalah lingkungan hidup dan sosial budaya yang dimiliki Sidoarjo dan Surabaya. “Teruslah berkarya dan bekerja untuk kota kelahiranmu dan Surabaya. Kalau bukan kita, terus siapa lagi yang peduli terhadap lingkungan hidup,” pesannya. (one)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.